Kamis, 21 Mei 2015

Inikah Cinta? (3)

"Gaun ini cantik bangat di badan kamu" puji Rama melihat Luna mengenakan gaun putih bertabur kristal itu, gaun pengantin yang begitu indah dan terlihat mewah.

Luna memutar-mutar badannya di depan cermin yang ada di hadapannya. Senyumnya mengembang tanpa hanti seperti bunga yang sedang mekar di taman.

Namun tiba-tiba seorang lelaki asing bersetelan jas rapi muncul dari pintu samping butik itu, melangkah begitu yakin mendekati Luna.

Rama tampak sangat terkejut ketika lelaki itu memeluk Luna dan menggandengnya pergi tanpa memperdulikan Rama.

Rama yang mencoba menarik tangan Luna, tapi ditepis oleh Luna dengan keras, dan Rama seolah menjadi orang asing dimata Luna.

"Luunaaaaaaaaaaaaa"

"Luuunaaaaaaaaaaaa"

"Luuuunaaaaaaaaaaa"

Teriakan Rama yang memanggil-manggil Luna seolah tak ada artinya lagi, Luna telah pergi, hilang seketika dalam gemuruh kabut sore yang remang.

"Mas Rama, Mas Rama bangun" tangan suster Risma menggoncang-nggoncangkan tubuh Rama, hingga akhirnya Rama membuka matanya perlahan dan menyeka keringat yang berembun di keningnya.

"Mas Rama hanya mimpi" bisik Suster Risma mencoba menenangkan Rama. Sementara Rama masih mencoba pelan-pelan mengumpulkan puing-puing ingatannya yang tercecer di lantai mimpi.

"Minum dulu Mas Rama supaya lebih tenang" ucap suster Risma sembari menyodorkan segelas air putih di bibir Rama.

Rama menyandarkan punggungnya pada bantal yang disusun oleh Suster Risma, dan mencoba meneguk air putih yang disodorkan oleh suster Risma, namun entah karena habis mimpi buruk atau apa, air putih itu terasa sangat pahit dimulut Rama, hingga hanya seteguk yang berhasil masuk melewati kerongkongan Rama.

Dunia masih terlihat mendung dimata Rama, kabut masih menguntai disemua sudut hatinya, dunianya terasa benar-benar gelap, Meski kini tampak di dinding jam sudah menunjukan pukul tujuh pagi lewat lima belas menit. Namun gairah Rama untuk menatap waktu seolah tak bergeming, rasa sedih dan kecewa sepertinya telah merampas semua semangat Rama hilang.

"Makan dulu ya Mas Rama, biar saya suapin" Ucap suster Risma sembari meraih sangkuk bubur di samping tempat tidur Rama.

"Tidak usah, saya tidak butuh dikasihani, tolong pergi tinggalkan saya sendiri" Bentak Rama kesal.

"Baik kalo itu yang Mas Rama inginkan" ucap Suster Risma dan melangkah mundur meninggalkan Rama sendirian.

Bersambung…

#CerMinBer (Cerita Mini Bersambung)

4 komentar:

  1. Wah, masih belum selesai ternyata...
    Kehilangan Luna sampe kebawa mimpi ya, kebayang perihnya!
    Tapiiii...itu Risma kan baik, kenapa Rama nggak coba membuka hatinya sama dia?
    Ehehehe...hati kan nggak bisa secepat itu berpindah ya Wan, jadi...ditunggu aja deh kelanjutan ceritanya versi Awan...seru pastinya... :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Belum Bunda, masih berlanjut... *panjang ya... hahahaha

      Iya Bunda, sepertinya belum mampu move on ini si Rama... :D

      Nantikan Bunda ceritanya, akan ada kejutan pokoknya dari cerita ini... *Sok Misterius padahal belum dapat ide lanjutan... hahahahah

      Hapus
  2. Wan, kehilangan Luna itu pasti menyakitkan banget buat Rama...langsung kebawa mimpi gitu...hohoho, smoga ini happy ending ceritanya, entah kenapa, saya lebih suka baca cerita yang happy ending daripada sebaliknya...
    Eiitsss, tapi ini kan cerita Awan ya, saya ikut aja deh gimana cerita ini akan berakhir.
    Balikan sama Luna-kah?
    Jadian sama Risma?
    Atau nggak sama dua-duanya?
    *hihihi, jadi kayak pilihan ganda UAN nih!

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Bunda, kita lihat saja nanti endingnya bagaimana, semoga saja bisa happy ending tapi saya tidak berani janji... hehehe

      Hahahahaha, Makasih Bunda sudah dikasih pilihan, nanti saya coba renungkan, mungkin ada yang bisa menjadi ide lanjutan cerita ini... hehehe

      eeeh iya kan habis UAN, jadi demam UANnya masih berasa Bunda... hehehe

      Hapus