Jumat, 14 Agustus 2015

Catatan Hati Luna (3)

Baru saja hendak kurebahkan diri dan mencoba memejamkan mata, tiba-tiba terdengar suara benda jatuh lumayan keras.

"Astaga..., apa itu, apa mungkin kucing atau jangan-jangan maling lagi" tanyaku penasaran.

Kunyalakan lampu meja disamping tempat tidurku, kuambil kacamata lalu berjalan pelan menuju pintu kamar. Tapi tunggu, jam berapa ini? Ku lirik jam dinding, jarum jam menunjukan pukul satu dini hari kurang lima belas menit.

Perlahan kubuka pintu kamar, kulihat ke arah balkon, pintu tampak tertutup. Lalu ku melongokan wajah ke bawah ruang tamu, juga tidak ada siapa-siapa. Lalu ku beranikan diri berjalan ke belakang, menuju kearah tangga disamping kamar Uda Rendy, tapi tak ada siapa-siapa juga.


“Hmmm... suara apa ya tadi itu” tanyaku dalam hati dengan mata yang terus mengintai setiap sudut belakang dengan cermat. Namun nihil, tidak ada apa-apa kecuali beberapa botol pembersih lantai yang berserakan dilantai.

 “Mas Bumi” Suara panggilan itu membuat ku sangat terkejut hampir mati.

Dan akupun menoleh seketika, dan tampak Mang Ujang tengah memamerkan senyum khasnya itu kearah ku.

“Mamang lagi apa sih malam-malam. Serem tau, tiba-tiba muncul dari belakang” Ngocehku setengah kesal karena masih dihasut kaget.

“Ngaanu Mas, hmmm maaaf tadi saya habis dari toilet, ternyata lantainya licin dan saya kepeleset deh, dan tak sengaja menyenggol rak ini makanya botol-botol itu pada jatuh” Ucap Mang Ujang setengah gugup.

“Tapi Mamang tidak apa-apa kan?” empatiku kembali datang setelah mendengar cerita Mang Ujang.

“Tidak apa-apa Mas Bumi, sekali lagi maaf sudah menggangu tidurnya” Ucapnya tulus dengan nada suaranya yang sangat khas Sunda.

“Sukurlah kalo begitu, Saya balik ke kamar dulu ya, mamang juga cepat istrahat” Ucapku sebelum berlalu meninggalkan Mang Ujang yang mulai sibuk meletakan kembali botol-botol yang tadi jatuh dirak dekat dinding menuju kamar mandi.

Aku tidak lantas masuk kamar, aku sejenak melangkah ke balkon, seolah dipanggil oleh sesuatu yang entah, dan saat mataku mengarah ke langit, ternyata bulan purnama tengah memamerkan cahayanya yang sempurna, dan juga tampak kerlip bintang berpesta cahaya, menghias kelam dan sunyi yang kini kujelang.

Sejenak aku meresapi semua pesta langit itu dalam diam yang paling sunyi, aku merasa seolah ikut terhanyut dalam cahaya sang bulan yang berarak pelan menyusuri jalur semesta, menunggu waktunya estafet dengan sang surya.

“Purnama yang indah, namun sampai kapanpun kau tak akan pernah ku gapai?, seperti dia yang kini seolah menabuh misteri dalam hari-hariku” Celoteh hatiku sendu, dan aku sadar inilah hidup, semua ada jalannya masing-masing, bahwa tak semua yang kita inginkan bisa kita raih.

“Alur selalu bertutur tentang: datang, pergi, siang, malam, gelap terang, ah.. apa itu juga berlaku untuk aku dan kamu. Untuk kita? Bukan, hubungan kita tepatnya” Desahku dalam hati.

Kuputuskan segera masuk ke kamar, aku tak kuat terhasut angin malam yang mulai menawarkan kebekuan yang kian menjadi. Tapi itupun aku tak langsung merebahkan diri. Enthlah, meski masih baru menempati kamar di rumah ini, selalu ada saja saat dimana aku teringat semua yang telah berlalu tanpa ku minta, sekelebat semua hadir meski tak ku inginkan dia datang.

“Sial” kulempar tubuhku diatas kursi meja belajarku.

Oh, mungkin aku saja yg terlalu melankolis pikirku. Kualihkan pandangku ke lampu meja. Hendak kupadamkan, tapi sebelum itu, mataku kembali tertuju pada buku catatan Luna.

"Apalagi yang kau tuliskan disana Luna?" Kubuka lembar berikutnya, tidak seperti pada lembar-lembar sebelumnya, dibuka dengan ada sebuah sketsa sederhana, sepasang tangan.


19 Jan
"Aku dan kamu, adalah tangan yg sama. Entah itu kiri atau kanan.  kita hanya bisa saling meraba tanpa ada kuasa untuk erat bertahan dalam genggaman. Sesekali kita berpegang, namun semakin erat, semakin pekat, semakin sesat, dan semua tercekat"
"Sejenak jeda hadir kala kutunggu katamu yang merangkum semua. Berharap bisa dimengerti walau sekali saja hingga tiada yang tersembunyi dan tak perlu lagi diingkari baik rasa sakitmu atau rasa sakitku. Serta tiada lagi alasan, karena inilah kejujuran, meski pedih adanya namun ini jawabnya. Kulepasmu segenap jiwaku karena apalah arti bersama, berdua, namun semu semata. Terlebih karena rasa cinta yang tak lagi sama."
"Yang dibutuhkan oleh cinta bukanlah sekedar alasan dan penjelasan panjang kali lebar, melainkan yang utama adalah kemauan untuk mengerti dan memahami ketidaksempurnaan diri masing-masing. Karena sejatinya, saat kita menuntut kesempurnaan, yang akan kita dapat hanyalah penderitaan semata"
"Pernahkah kau bertanya, kenapa harus aku yang diminta menjauh lalu pergi dan bukan orang lain yang seharusnya pamit undur diri?"
“Ini tak adil, sungguh tak adil bagiku, tapi aku bisa apa? Sudah letih aku meminta, tapi tak sedikitpun ada yang mengerti, tidak hanya kamu, dia, mereka, dan semuanya, seolah buta untuk memahami arti dari permohonan”
“Aku sudah menyembah, aku sudah bersujud, tapi tak ada yang benar-benar bisa mendengar jeritan ini, hingga akhirnya aku bosan sendiri ditampar kenyataan yang tak pasti, dan genggaman tangan ini masih adakah artinya lagi bagi mu wahai Tuan?”

“Buku apa ini sebenarnya...?” Tanyaku semakin diliputi penasaran, dan ku membuka halaman berikutnya, namun tiba-tiba gelap.

"Kenapa lagi ini?" Panikku bersahutan.

Aku mengintip keluar dari celah gorden jendela, tampak rumah-rumah lain juga gelap, sepertinya mati lampu.

Akhirnya kenyataan ini memaksaku tidur meski masih dirasuki penasaran akan cerita Luna berikutnya, tapi aku tak bisa berbuat banyak, selain mencoba meminang lelap meski ngantuk belum datang menggandengku.


B e r s a m b u n g... 

10 komentar:

  1. Waaah, mati lampu yaaa...
    Jadi penasaran neh...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Kang Azzet, mati lampu jadi bacanya pending lagi nih... hehehe

      Hapus
  2. penasaran sama kelanjutannya, saya tunggu ya

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Pityriasis Alba, masih mencari inspirasi untuk lanjutannya nih... heheheh

      Hapus
  3. Awaaaaan...
    Blog barumu ini ternyata link nya belum aku masukin ke blogroll-ku...huhuhu..
    Pantesan kelewat terus kalo aku BW...
    Maapkanlaaaaah :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Masukin atuh Mba Erry saya di Blogrollnya... heheheh *Jangan lupakan saya.. hiks

      Dah di maapkan, yang pentingan jangan dilupakan lagi... hahahah

      Hapus
  4. Eciyeeee...
    Ini maksudnya catatan seorang mantan gitu yah Wan?
    Bumi dulu pacaran ama Luna trus putus karena gak direstui orang tua, ya kan?
    *maksa bikin skrip sendiri hehehe...*

    BalasHapus
    Balasan
    1. hahahhaha Mba Erry suka ngarang cerita sendiri deh,... tunggu saja lanjutannya akan seperti apa, yang jelas endingnya masih rahasia *PakeRahasiaSegala hahahah

      Hapus
  5. Ih Bumi kamu kenapa cemen amat sih, jam 1 dini hari udah terlelap aja sih...

    Begadang dong sampe jam 3 kayak akuh :))

    BalasHapus
    Balasan
    1. Hahahahah
      Duuh bedaa atuh si Bumi sama Pecinta Drakor Sejati yang begadang sampai pagi... beda dunia atuh Mba Erry... hahahha



      Hapus