Minggu, 18 Oktober 2015

MUAK


Pahit!
Kutelan perih ini mentah mentah
Jiwaku tak lagi waras menyaring semua warta yang bercerita
Opini opini kosong beterbangan laksana debu
Manyesatkan!
Belum lagi janji-janji manis yang berhamburan
Meletup bagai asap yang membakar Sumatera juga Kalimantan
Perih mata ini, 
Sesak napas ini.
Adakah kau peduli?


Aku muak!
Pagi sudah gaduh dengan tawa para penjilat
Sedini ini mereka menghisap darah dengan uang berbunga
Lalu memeras air mata para petani yang gagal panen
Menjarah impian mereka yang hanya segenggam
Dibawa lari dibalik jas-jas berdasi

Biadab!
Kau masih berani tampil tanpa dosa
Senyummu tak akan pernah mampu meredam jerit tangis itu
Lihatlah... busung lapar merajai dimana-mana
Sedangkan kau berpesta bersuka cita
Enyalah...
Aku benar-benar muak!



*KamarTujuh 19102015

2 komentar:

  1. kita telah menjadi asing ditanah leluhur sendiri

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya sedih Mas Awan (nama kita sama toh :)), semoga negeri ini menjadi lebih baik lagi dan tidak benar-benar asing di negerinya kita sendiri ya, mudah2an. Aamiin :)

      Hapus