Kamis, 09 Juni 2016

Palang Merah Indonesia Mengabdi Sepenuh Hati Tanpa Pilih Kasih



Bangunan runtuh akibat gempa (Doc. Wiwin)
Berbicara tentang bencana, ingatan saya langsung merekam kembali kenangan akan gempa bumi yang menguncang kota pelajar, Yogyakarta pada tanggal 27 Mei 2006 silam. Kejadian yang tak akan pernah bisa saya lupakan dalam sejarah hidup saya.

Pagi itu seusai shalat subuh, saya kembali meminang mimpi lantaran mata masih meminta untuk lelap kembali, setelah semalamnya habis begadang mengerjakan tugas kuliah. Namun sekitar pukul enam kurang lima menit, tiba-tiba monitor dan CPU Komputer di atas meja goyang-goyang seperti orang gemetar, lalu deretan piring dan gelas yang ada di rak kayu dekat lemari beruntun membentur ubin, menabuh riuh yang teramat bising. Saya menghempaskan selimut dan memicingkan mata.

Sedangkan di luar kamar, saya dapat mendengar dengan jelas suara orang-orang berteriak-teriak menyuruh saya cepat keluar lantaran gempa, dan deru kaki-kaki yang berhamburan menuju pintu keluar terdengar sangat jelas, namun saya tidak bisa cepat beranjak, saya masih terjebak di dalam kamar, lantaran kunci kamar tidak saya temukan, padahal semalam seingat saya kunci diletakan di dekat meja TV. 

Jangan lagi tanya, panik terus menjalari tubuh saya, teman-teman kosan saya berkali-kali mengedor-gedor kamar saya menyuruh cepat keluar, namun kunci kamar saya entah menyelinap kemana, dan saya mencoba menarik paksa gagang pintu kamar, namun tak kunjung bisa terbuka, keringat dingin mulai membasahi sekujur tubuh saya, ketika tiba-tiba gemuruh genteng dan atap kanopi teras berjatuhan di luar kamar.

Berbagai rasa berkecamuk, takut, gelisah, panik semua beradu di hati saya, ketika buku-buku yang tertata rapi semalam sudah berarak meninggalkan rak kayu yang merekat di dinding, kamar seketika tak berbentuk, semua barang sudah melantai. Saya benar-benar takut, dan tak hentinya menyebut nama Tuhan.

Keadaan itu membuat saya semakin mempercepat  tangan saya bergerilia membabi buta untuk mencari kunci bergantungan ornament jambu monyet itu, namun akhirnya ketemu juga setelah saya menepis ceceran lembar-lembar laporan praktikum yang belum dijilid.

Alhamdulillah, saya akhirnya bisa berhambur keluar dari kamar, namun suasana kos sudah kosong, dan orang-orang sudah entah kemana, atap kos yang sempat terdengar tadi terjatuh, tampak berserakan di halaman. Dan saya melihat orang-orang berlari memenuhi jalan raya dan menghampiri jembatan layang Janti Karang Jambe, tempat yang dianggap tinggi di dekat tempat tinggal saya, lantaran orang-orang takut akan terjadinya tsunami.

Cukup lama  saya dan orang-orang berdiri berhimpit-himpitan di jembatan, namun setelah setengah jam lebih disana, Polisi pun datang mengumumkan bahwa tidak terjadi tsunami, maka perlahan orang-orang pun bubar, saya memutuskan balik ke kosan, dan saya baru tahu jika ternyata teman saya yang berada di kamar ujung kakinya patah ketimpa atap kanopi yang jatuh saat saya masih terjebak di kamar tadi, dan sekarang sudah dilarikan warga ke rumah sakit.

Saya tidak berani masuk kamar karena gempa susulan masih sering terjadi, saya pun ikut berkumpul bersama warga yang duduk di lapangan voly tidak jauh dari kosan saya. Dan dari cerita banyak warga, saya baru tahu banyak rumah yang ambruk saat terjadi gempa tadi, dan entahlah dengan korban jiwanya, berita masih simpang siur, terlebih listrik mati sehingga untuk akses berita dan informasi pun terputus.
Kerusakan akibat bencana gempa - (Doc. Mudrajad)
Dan dari info yang beredar, konon Kota Bantul adalah salah satu kota yang mengalami kerusakan paling parah setelah diguncang oleh bencana gempa bumi dengan kekuatan 5,9 skala richter itu, banyak rumah yang rata dengan tanah, dan tercatat korban meninggal hampir mencapai empat ribu jiwa di sana, jauh lebih banyak dari wilayah lain,  sehingga total keseluruhan korban meninggal akibat gempa yang melanda Yogyakarta mencapai 6,234 orang.

Bencana ini menarik empati yang luar biasa dari berbagai pihak, baik di dalam maupun luar negeri. Mereka banyak yang datang langsung ke lokasi bencana dan bahu membahu memberikan beraneka bantuan untuk meringankan beban para korban gempa bumi.

Dan bantuan yang langsung saya dapatkan saat itu adalah mendapatkan sumbangan sembako. Saya dan teman-teman kosan sangat senang sekali diberi bantuan berupa mie instan, beras dan beberapa produk makanan instan lainnya, sungguh bantuan makanan ini begitu berarti buat kami saat itu, terlebih karena semua toko, kios dan warung-warung makan pada tutup sekitar seminggu lebih.

Palang Merah Indonesia (PMI) merupakan salah satunya organisasi di Indonesia yang bergerak dalam bidang sosial kemanusiaan memberikan respon yang sangat cepat untuk menolong masyarakat saat itu. PMI tidak hanya cepat, namun juga tepat sasaran dan tampak terkoordinasi dengan baik ketika membantu masyarakat korban gempa karena didukung oleh para relawan yang tersebar di cabang-cabang PMI di tingkat kota dan kabupaten terdekat.
PMI Tanggap Darurat Gempa Bumi - (Doc. Toto W.S)
Untuk melakukan tanggapan saat bencana terjadi, PMI selalu mengedepankan prinsip dasar Gerakan Internasional Palang Merah dan Bulan sabit merah yaitu kemanusiaan, kesamaan, kesukarelaan, kemandirian, kesatuan, kenetralan, dan kesemestaan. Hal itu terlihat ketika Palang Merah Indonesia langsung bertindak membantu masyarakat dalam memberikan pertolongan dengan ikut melakukan pencarian para korban dan melakukan proses evakuasi korban tanpa membeda-bedakan satu sama lainnya, tanpa melihat latar belakang para korban berdasarkan ras, suku, golongan politik, ataupun agama tertentu. 

Palang Merah Indonesia terlihat terus bahu-membahu dalam melaksanakan tugasnya dengan mengedepankan keselamatan para korban. Dan hal ini mencerminkan bahwa PMI melayani dengan setulus hati pada siapapun korban yang membutuhkan pertolongan dan bantuannya.

Hal ini tampak jelas, ketika Palang Merah Indonesia langsung mendirikan Rumah Sakit Lapangan Darurat di Lapangan Dwi Windu Bantul untuk memberikan pertolongan pertama dan pelayanan kesehatan dengan tim medis yang sudah siaga untuk membantu korban bencana gempa.
Ilustrasi Rumah Sakit Lapangan PMI - (Doc. Tenda)
Selain itu, relawan dari Palang Merah Indonesia juga terus melakukan berbagai pelayanan lain untuk meringankan beban korban bencana gempa, misalnya langsung menyediakan tempat penampungan darurat (pengungsian), memberikan layanan donor darah, menyediakan dapur umum, memberikan paket sembako, pakaian dan selimut pantas pakai, dan berbagai bantuan lainnya kepada para korban bencana. 

Kerja Palang Merah Indonesia tidak berhenti disitu saja, Palang Merah Indonesia pun tidak lupa memberikan dukungan psikososial pada korban bencana, dimana dukungan ini dimaksudkan supaya para korban bisa kembali mengatur kesedihan dan emosinya,  sehingga rasa trauma akan bencana bisa teredamkan, yang diharapkan para korban bencana bisa kembali bangkit untuk melanjutkan hidup dan bersosialisasi kembali bersama masyarakat lainnya.

Untuk itu, dukungan berupa motivasi dan berbagai kegiatan pun digagas oleh PMI, mulai dari kegiatan olahraga, ketangkasan, konseling, games, bimbingan kreatif kerajinan, bermain sambil belajar, hiburan, dan banyak lagi hal lainnya dilakukan oleh PMI agar masyarakat bisa cepat melupakan masa-masa sulitnya dan tetap optimis untuk melanjutkan hidup.

Dan akibat bencana gempa itu, ternyata banyak warga yang akhirnya terpisah dengan anggota keluarga lainnya. Untuk itu, Palang Merah Indonesia pun melakukan upaya Restoring Family Link atau pemulihan hubungan keluarga bagi warga yang terpisah dengan anggota keluarga lainnya. dimana langkah Restoring Family Link ini dilakukan dengan kerja keras para relawan PMI dengan menyebarkan berbagai informasi seputar laporan orang-orang yang kehilangan anggota keluarganya melalui berbagai sarana, seperti telephone satelit dan radio untuk mempermudah pertukaran informasi dan berita.  Dan konon pada saat gempa bumi di Jogja saat itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Cabang Bantul berhasil mempertemukan 95 kasus dari 107 kasus keluarga yang terpisah dari anggota keluarganya.

Dan akibat gempa tersebut, ternyata banyak gedung sekolah yang rusak. Untuk itu, Palang Merah Indonesia (PMI) Pusat segera menyelesaikan pembangunan 9 gedung Sekolah Dasar (SD) dan Madrasah Ibtidaiyah (MI) di wilayah Bantul antara lain: SD Muhammadiyah Serut Bantul, SD Muhammadiyah Bantul Kota, MI Al Huda Kebusungu Dlingo, MI Patalan, MI Ma’arif Guwosari Pajangan, MI Kediweng Dlingo, MI Maulana Ma’gribi Panjangrejo Pundong, MI Al Qoriah Wonolelo Pleret dan MI Nangsri Pundong. Dimana pembangunan dan renovasi sekolah ini dilakukan sesegera mungkin supaya anak-anak tetap bisa melanjutkan sekolahnya karena merekalah penerus cita-cita bangsa ini. 

Sungguh sangat mulia tugas yang diemban oleh Palang Merah Indonesia, semua yang dilakukannya sungguh sangat luar biasa, Palang Merah Indonesia benar-benar bekerja demi rasa kemanusiaan dan semangat kesukarelawanan yang tulus untuk membantu para korban bencana tanpa pilih kasih.

Saya banyak belajar dari bencana ini, bahwa sejatinya manusia tak ada kekuatan apa-apanya ketika Tuhan sudah bertitah melalui ujiannya serupa gempa ini, manusia sangatlah kerdil dan begitu rapuh. Dan harta, tahta dan jabatan tak pernah mampu berkuasa, ketika petaka datang melamar. Sungguh, manusia tak ada yang bisa hidup tanpa bantuan dan pertolongan orang lain, manusia pasti membutuhkan manusia yang lainnya.

 
Video karya Indonesia News di atas, tampak memperlihatkan bagaimana perjuangan para relawan PMI ketika menolong korban Gempa Jogja pada waktu yang lalu, sungguh perjuangan yang membutuhkan kerja keras dan semangat yang tinggi.

Dan bantuan yang dilakukan oleh Palang Merah Indonesia terhadap warga Jogjakarta saat itu sungguh luar biasa, tak bisa dilukiskan dengan kata, betapa banyak terima kasih yang ingin saya haturkan untuk semua bantuan dan pertolongannya pada saya dan korban bencana gempa jogja saat itu, hanya Tuhanlah yang bisa membalas semua pengabdian mereka dengan pahala yang melimpah. Aamiin...

Dan bisa saya bilang, bahwa Palang Merah Indonesia adalah Pahlawan Bencana yang selalu tampil cepat dan terdepan untuk menyelamatkan, melayani dan mengabdi sepenuh hati dimanapun, kapanpun  dan untuk siapapun tanpa membeda-bedakan.


Referensi:

16 komentar:

  1. Peran PMI ternyata tidak melulu soap darah yaa

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Ophi, banyak peranan lain yang diemban oleh PMI :)

      Hapus
  2. PMI memang patut untuk diapresiasi. PMI selalu memberikan yang terbaik dalam menolong sesama.

    Kalau ngomongin PMI, aku jadi inget waktu SMA dulu saat ikut organisasi PMR hehe. Kangen belajar bareng, menolong sesama dan lain sebagainya.

    Semoga PMI semakin jaya. Aminnn

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya kerja PMI luar biasa, jasanya tak mampu diungkapkan dengan kata-kata.

      Waah Bowo kamu pernah ikut PMR ya, mantaps deh hehehe

      Aamiin... smg PMI terus jaya.... :)

      Hapus
  3. Peran PMI sangat membantu masyarakat dalam keaadaan susah.
    Semoga PMI tetap jaya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya PMI itu bekerja keras untuk membantu masyarakat, terutama yang kesusahan dan terkena bencana.

      iya, smg PMI terus jaya... Aamiin

      Hapus
  4. Saya tahunya PMI itu hanya untuk donor darah doang, ternyata banyak juga ya Bang kegiatan PMI, kudet nih saya hahaha tapi jadi tahu pas baca ini :D

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banyak yang mengira begitu Angga, banyak yang kira PMI hanya untuk donor darah saja, padahal banyak juga kok kegiatan PMI yang lainnya. seperti cerita diatas itu :)

      Hapus
  5. Awaaaan...
    Dari postingan ini aku baru tahu bahwa ternyata Awan dulu kuliahnya di Jogja, tempat bertemunya kembali si Cinta & Rangga hehehe...

    Berapa purnama kuliah disana nih Wan? *apasih* hehe...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Erry saya kuliahnya di Jogja dan sekarang merantau je Jakarta :)

      duuuh saya sata nulis ini jadi kangen jogja Mba Erry, pengen liburan ke Jogja, sekalian rekam jejak tempat syuting Rangga dan Cinta heheheh


      Lupa hitung berapa purnamanya, tapi nggak selama si Rangga pergi sih Mba Erry hahahaha

      Hapus
  6. Awaaaan...

    Itu cerita kejebak di kamar ketika gempa serem juga yah Wan!
    Aku sih selalu dibiasakan semua jenis kunci selalu ditaruh di tempat yah sama Wan.

    Jadi kunci rumah & kunci motor selalu digantung di tempat yang sama soalnya aku suka pelupa parah Wan...

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Erry, duuuh jika ingat-ingat lagi kejadian itu saya bisa keringat dingin, seraaam Mba, saya panik dan takut bangat deh saat itu.

      Iya Mba Erry, seharusnya simpan ditempat khusus supaya tidak lupa, tapi saya sejak gempa itu kunci tidak pernah saya cabut lagi dari pintu Mba Erry, jadi kalo ada apa-apa bisa cepat keluar.

      Ga lagi-lagi deh cabut kunci dari pintu. takuut terulang lagi. tapi semoga nggak pernah kejadian lagi. Aamiin :)

      Hapus
  7. Ternyata sama dengan komen temen2 yang lain lho Wan, selama ini aku tahunya PMI cuma buat donor darah aja...

    Baru tahu peranan PMI ternyata sangat besar untuk penanggulangan bencana, merasa tercerahkan banget setelah baca tulisan ini deh Wan :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya banyak kok Mba Erry yang tahunya begitu, dikiranya hanya untuk donor darah saja, padahal PMI banya banyak kegiatan sebenarnya. heheheh

      Syukurlah jika akhirnya Mba Erry tercerahkan... heheheheh

      Hapus
  8. sukses ya awan, saya ikutan sekali di acaranya PMI waktu ruwat bumi, luar biasa deh sama dedikasinya mereka

    BalasHapus
    Balasan
    1. Aamiin... Terima kasih Mba Evrina :)

      Waah seru ya Mba acara ruwat bumi bersama PMI? saya belum pernha ikutan acara ini.

      Hapus