Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" Sudah Terbit




“Hutan adalah paru-paru dunia,” begitulah penggambaran betapa pentingnya fungsi keberadaan hutan bagi seluruh dunia. Hutan mempunyai peranan yang begitu vital dalam kehidupan kita ini. Dimana keberadaan hutan akan menentukan keberlangsungan hidup kita di muka bumi ini.

Makanya menurut saya, tidak berlebihan jika mengibaratkan hutan sebagai paru-parunya dunia, karena mengingat hutan merupakan salah satu pendukung yang sangat penting bagi keseimbangan alam ini. dan bila hutan rusak, maka bencana alam dan permasalahan hidup akan terjadi di mana-mana.

Untuk itu, keberadaan hutan yang tetap lestari harus terus kita jaga, mengingat hutan mempunyai peranan yang penting dalam kelangsungan alam semesta ini. Dan menyadari betapa penting peranan hutan bagi keseimbangan alam dan kelangsungan hidup kita di bumi ini, maka pemerintah Indonesia terus melakukan berbagai upaya agar hutan di Indonesia tetap terjaga keasriannya.

Salah satu upaya yang terus dilakukan oleh pemerintah adalah menerapkan program hutan sosial, yaitu sebuah program nasional yang digagas oleh pemerintah untuk membuat masyarakat bisa turut mengelola hutan secara legal dan bisa mendapatkan manfaatnya secara ekonomi namun tetap wajib juga merawat hutan, sehingga konservasi dan kesejahteraan bisa sejalan.

Nah, jika ingin membaca seperti apa upaya pemerintah dalam menjalankan perhutanan sosial ini, maka teman-teman bisa mambacanya pada tulisan saya yang berjudul Hutan Sosial Untuk Kesejahteraan Rakyat ini, semoga setelah membaca ini, teman-teman bisa mendapatkan gambaran seperti apa dan bagaimana hutan sosial hadir di tengah masyarakat.

Ya, pada dasarnya kehadiran hutan sosial bukan hanya bertujuan untuk menjaga kelestarian hutan agar tetap terjaga saja, tetapi juga akan memberikan dampak yang sangat baik bagi kelangsungan hidup masyarakat secara ekonomi.

Dan pemanfaatan hutan sosial ini sudah merambah ke banyak daerah di seluruh Indonesia, sehingga kini masyarakat bisa merasakan secara langsung bagaimana manfaat hutan sosial bagi kehidupan mereka. Dan untuk membagikan segala kisah di balik perjalanan panjang terkait hutan sosial yang ada di negeri ini, maka kini dihadirkan sebuah buku berjudul "Lima Hutan, Satu Cerita".

Memang sih, buku ini tidak membahas semua hutan sosial yang ada, namun sesuai dengan judulnya, maka buku ini hanya membahas 5 lokasi hutan saja, atau bisa jadi, buku ini merupakan langkah awal dari pembukuan cerita terkait hutan sosial yang ada di seluruh Indonesia. Kita doakan saja ya. :)

Sebab sejatinya, masih ada lebih dari 5000 hutan sosial yang ada di Indonesia, karena saat ini hutan sosial sudah direalisasikan seluas 2.23 juta hektar bagi 5.172 kelompok yang mencakup 525.04 KK di seluruh Indonesia.

Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" Sudah Terbit


Nah, beberapa hari yang lalu (05/04/19), saya mendapat undangan untuk menghadiri acara Ngobrolin  Hutan Sosial sekaligus Bedah Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" yang bertempat di Ruang Rimbawan I, Gedung Manggala Wanabakti, Jalan Jendral Gatot Subroto – Jakarta Pusat.

Namun sebelum acara bedah buku dimulai, acara dilanjutkan dengan pembacaan sambutan dari Bapak Dr Ir Bambang Supriyanto selaku Dirjen Perhutanan Sosial dan Kemitraan Lingkungan Hidup setelah lantunan lagu Indonesia Raya berkumandang di ruang Rimbawan I ini.

Bapak Bambang menyampaikan sambutan mewakili Ibu Siti Nurbaya
Melalui kesempatan ini, Bapak Bambang mewakili Ibu Siti Nurbaya selaku Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan untuk menyampaikan sambutannya karena beliau kebetulan berhalangan hadir. Dalam sambutannya ini, Beliau menyampikan rasa ucapan terima kasih dan penghargaan yang tinggi kepada Bapak Tosca Santoso dalam menyampaikan contoh nyata perhutanan sosial yang dituliskan secara menarik melalui buku Lima Hutan, Satu Cerita ini.

Dimana kelima lokasi hutan yang ada dalam buku ini tersebar di berbagai daerah yaitu: Padang Tikar – Kubu Raya (Kalbar), Kemantan (Jambi), Gunung Kidul – Kulon Progo (DIY), Dungus – Madiun (Jatim), dan Sorengge – Cianjur (Jabar).

Dan Ibu Siti Nurbaya mengakui bahwa buku "Lima Hutan, Satu Cerita"  yang ditulis oleh Bapak Tosca Santoso ini merupakan sebuah  rangkaian cerita yang dikemas dengan sangat apik, sehingga sangat enak dibaca, mencerahkan dan memberikan refleksi kehidupan sosial yang nyata dalam pergulatan implementasi kebijakan nasional Perhutanan Sosial dan Reforma Agraria.

Dalam prakteknya, usaha Perhutanan Sosial maupun Reforma Agraria yang merupakan distribusi lahan hutan kepada masyarakat, berbentuk usaha masyarakat sebagaimana contoh bervariasi yang dilakukan kelompok masyarakat pada lima lokasi yang secara sistematis diriwatakan dalam buku ini.

Adapun variasi bisnis hutan sosial yang sudah dibahas dalam buku ini terdiri dari jasa lingkungan (ekowisata dan sumber air bersih), agro-forestry (padi, jagung, kedelai, tebu, tembakau, umbi-umbian, tanaman itrisi), silvo-pastur, silvo-fishery Biomass dan bioenergy (kemiri sunan, aren, eucaliptus, calliandra, nyamplung, dll), hasil hutan bukan kayu (madu, rotan, akar, getah, dll), bahkan industri kayu (sengon, karet, dll). Nah, semua contoh-contoh praktek ini dibahas dengan sangat rinci dalam buku ini, termasuk dinamika dan kapasitas pelaku lapangan semua diuraikan dengan baik dalam buku ini.


Dengan diberikan hak pengelolaan hutan sosial ini masyarakat bisa memanfaatkan kawasan hutan sosial sesuai dengan potensi yang ada. Kementerian lingkungan hidup dan Kehutanan melalui kegiatan Bina Usaha Perhutanan Sosial terus berupaya agar lembaga masyarakat desa hutan atau kelompok tani hutan yang telah mendapatkan hak pengelolaan maupun izin usaha sosial ditingkatkan kemampuannya dalam pengelolaan kawasan hutan, dikembangkan kapasitas kelembagaannya dan kewirausahaannya dalam pengelolaan sumber daya hutan secara optimal, sehingga dapat bertransformasi menjadi kelompok usaha perhutanan sosial (KUPS) yang mandiri.

Dan tidak dipungkiri, dalam perjalanan hutan sosial bisa sejauh ini tak luput juga dari berbagai kendala dan permasalahan. Untuk itu, pemerintah menilai bahwa perlu adanya terus inovasi untuk pengembangan terkait investasi, teknologi, dan kelembagaan kelompok, fasilitasi, infrastruktur, pendamping/penyuluh juga pengawasan.

Sebab sejatinya, selain lima hutan yang dibahas dalam buku ini. Secara nasional, masih ada sekitar 5572 lokasi untuk hutan sosial  dengan capean luas sekitar 2,16 juta hektar dan 559 kepala keluarga masih terbuka peluang bagi banyak masyarakat untuk dapat mengelola hutan dengan sumber daya yang lestari.

Lokasi-lokasi perhutanan sosial ini diharapkan menjadi pusat-pusat pertumbuhan perekonomi lokal berbasis pengelolaan sumber daya hutan sehingga nantinya bisa menjadi ujung tombak dan pelopor dalam mewujudkan upaya pengelolaan hutan lestari.

Mengupas Buku "Lima Hutan, Satu Cerita"


Dan untuk mengupas lebih mendalam terkait kehadiran buku "Lima Hutan, Satu Cerita" ini, maka dalam acara ini, tampak hadir Bapak Tosca Santoso selaku penulis buku "Lima Hutan, Satu Cerita" dan juga para narasumber lain, yaitu Bapak Didik Suharjito selaku Guru Besar Fakultas Kehutanan IPB, dan ada juga Ibu Diah Suradiredja selaku anggota Pokja Perhutanan Sosial serta Bapak Bagja Hidayat selaku Pemimpin Redaksi Forest Digest yang bertendak sebagai moderator yang memandu jalannya acara ini.

Para narasumber (Kiri - Kanan) : Ibu Diah - Bapak Didik - Bapak Tosca - Bapak Bagja
Buku "Lima Hutan, Satu Cerita" ini membahas tentang perhutanan sosial yang sudah sukses dikelola oleh masyarakat yang berada di lima lokasi yaitu:
1. Merawat Mangrove di Padang Tikar - Kubu Raya (Kalimantan Barat)
2. Hutan Adat, Mata Air Ribuan Hektar Sawah - Kemantan (Jambi)
3. Ketika Hutan Rakyat Lampaui Luas Hutan Negeri - Gunung Kidul – Kulon Progo (Yogyakarta)
4. Dungus, Bernaung Jati Setengah Hari - Madiun (Jawa Timur)
5. Sarongge: Hutan, Kopi dan Mimpi Petani - Sorengge – Cianjur (Jawa Barat)

Bahkan diakui oleh Bapak Bagja bahwa buku Lima Hutan, Satu Cerita ini sangat asyik untuk dibaca, karena Pak Tosca mampu meramu ceritanya begitu menarik, sehingga menikmati buku ini di dalam kereta Bogor – Tanah Abang tak terasa begitu menyenangkan, bahkan tahu-tahu sudah habis saja.  

Dan ternyata buku Lima Hutan, Satu Cerita ini merupakan buku pertama dan satu-satunya yang menceritakan hutan sosial secara naratif dengan gaya story telling sehingga memiliki getaran yang bisa menyentuh.

Dimana salah satu cerita yang menarik dari buku ini, adalah bisa mengulik cerita dari sosok-sosok yang terlibat langsung dalam pengelolaan hutan sosial. Salah satu kisah yang mengharukan datang dari Bapak Dudu Duroni, bahwa dalam perjuangannya menjadi petani kopi di Sarongge, bukan hanya ditinggalkan tetangga-tetangganya, bahkan dia terpaksa bercerai dengan istrinya karena di awal ia merintis kopi tak cepat membuahkan hasil.

Itulah yang menarik dari buku ini, hal-hal personal turut disuguhkan dalam buku setebal  164 halaman ini dengan gaya bahasa bertutur yang dirangkaiakan dengan kata-kata yang ringan sehingga mudah dipahami oleh siapa saja, termasuk kaum millennial jika membacanya.

Ini dia tampilan buku "Lima Hutan, Satu Cerita" Karya Bapak Tosca Santoso
Bahkan diakui oleh sang penulisnya sendiri, Bapak Tosca Santoso, bahwa buku ini sederhana sekali, menceritakan bagaimana tokoh-tokoh hutan sosial dari berbagai sisi hidup tokoh-tokoh tersebut. Makanya ketika membaca buku ini, kita akan disuguhkan oleh berbagai macam pengalaman hidup yang akan membuat kita tergugah.

Karena tidak bisa dipungkiri, kehadiran hutan sosial ini telah mengubah begitu besar kehidupan masyarakat terutama kelas bawah menjadi lebih baik. Dimana sebelumnya mereka yang tidak punya lahan, kini bisa menggarap hutan dengan tenang karena sudah mendapatkan perizinan yang legal dari pemerintah.

Dan diakui oleh Bapak Tosca bahwa sebenarnya masih banyak sekali daerah lain yang juga memiliki banyak cerita menarik, namun sayangnya untuk kali ini baru bisa menuliskan lima hutan sosial saja dulu. Semoga nanti akan ada lagi hutan sosial lain yang akan diceritakan lagi dalam buku selanjutnya. Kita tunnggu saja ya teman-teman. :)


Dan diakui oleh Bapak Didik Suharjito yang biasa membaca jurnal, bahwa isi buku Lima Hutan, Satu Cerita ini sangat kaya, dan satu-satunya buku menceritakan perhutanan sosial dengan gaya story telling tanpa mengurangi nilai ilmiahnya, sehingga sangat menarik untuk dibaca dan mudah dipahami oleh siapapun.

Maka dengan mambaca buku ini, kita bisa mendapatkan gambaran bagaimana kehidupan para tokoh hutan sosial yang ada diberbagai daerah tersebut dengan berbagai kegiatan yang mereka lakukan dalam mengelola potensi hutan yang ada.

Membaca buku ini sangat menggugah pembacanya dengan kisah-kisah yang dialami langsung oleh para tokoh hutan sosial, makanya saat menyelami setiap kata-kata dalam buku ini kita seolah diajak menelusuri secara langsung seperti apa perjuangan dan kehidupan orang-orang yang terlibat dalam pemanfaatan hutan sosial ini hingga bisa sampai di titik ini.


Dan Ibu Diah Suradiredja pun menilai bahwa buku ini memang sangat menarik dengan alur cerita yang enak dibaca, sehingga memberi ruang kepada orang yang membaca buku ini untuk lebih tahu seperti apa karakter dari lima hutan yang berbeda dalam buku ini.

Selain itu, buku ini juga sekaligus memberitahukan kepada pemerintah tentang evaluasi kerja pemerintah terhadap pengelolaan hutan soal hingga saat ini, dimana terlihat ada progres yang luar biasa terhadap bagi kehidupan masyarakat setelah mendapatkan akses untuk mengelola hutan sosial.

Dimana kehadiran hutan sosial pada dasarnya telah membawa banyak perubahan bagi masyarakat khususnya tertuju pada 3 sasaran utama, yaitu
  1. Ekonomi, yaitu bagaimana kehadiran hutan sosial bisa memberikan kesejahretaan masyarakat
  2. Sosial, yaitu hutan sosial akan mencagah terjadi konflik dan kesenjangan sosial di masyarakat
  3. Ekologi yaitu bagaimana masyarakat memanfaatkan hutan untuk mendapatkan hasil dari hutan tanpa merusak hutan tersebut.
Meskipun hutan sosial sudah bisa mencapai sasaran-sasaran tersebut, namun tidak bisa dipungkiri, dalam buku ini sekaligus memberikan kritikan kepada pemerintah, seperti birokrasi yang lambat, diperlukan pendamping hingga investasi yang tepat.

Dan implementasi perhutanan sosial ini mutlak membutuhkan pendamping dari aktivis atau akademisi yang harus ikut serta selain bimbingan, penyuluhan dan pengawasan dari pemerintah agar ke depan hutan sosial bisa benar-benar semakin baik lagi.

Untuk itu, buku ini sangat layak dibaca oleh semua pihak yang terlibat dalam kegiatan Perhutanan Sosial pada berbagai lapisan tingkat keterlibatan yaitu pengambil keputusan, perencana, pendamping, penyuluh, partner, praktisi, pelaku tani dan masyarakat luas, karena buku ini menjelaskan kepada kita bagaimana dinamika perjalanan dan interaksi manusia dengan alam dan interaksi antar pelaku tergambar dengan baik, termasuk berbagai kondisi fisik dan sosial yang ada di masing-masing lokasi tersebut.


1 comment:

  1. Bukunya berat yaaa, tapi pesannya bisa sampai karena penulisannya mengalir.

    ReplyDelete