Monday, November 20, 2017

Mari Lindungi Anak Indonesia Dari Pangan Tidak Sehat




A: Si Megi itu kok gemuk bangat ya, padahal masih anak-anak?
B: Iya sampai susah bergerak begitu. kasihan ya!

Penggalan cerita di atas pernah saya dengar dari tetangga saya, mereka membicarakan seorang anak kecil yang tubuhnya gemuk bangat padahal masih usia sekolah dasar. Alhasil dia sering kesusahan bergerak dan juga kesusahan saat mencari pakaian yang muat bagi tubuhnya.


Ternyata pertumbuhan tubuh Megi yang gendut ini lantaran dibiasakan oleh orangtuanya makan-makanan cepat saja, dan makanan apapun yang dinginkannya selalu dituruti oleh orangtuanya, padahal belum tentu itu sehat untuk anak kecil seusianya.

Berdalih supaya anak tidak rewel sering kali menjadikan orangtua Megi menuruti semua kemauan sang anak. Dan dengan bangganya orangtua Megi meyakini bahwa anaknya yang gemuk itu tandanya sehat karena doyan makan, tidak seperti anak-anak lain yang kesusahan saat makan. 

Tuh kan, ternyata masih ada orang tua yang merasa bangga bila memiliki bayi atau anak yang bertubuh gemuk, mereka beranggapan itu sangat sehat, lucu dan menggemaskan. Padahal itu adalah kondisi kelebihan berat bada yang berarti terjadi penumpukan lemak sehingga nantinya memiliki risiko penyakit tidak menular. 

Melihat hal ini, perlu adanya perubahan pemahaman di masyarakat bahwa anak yang gemuk belum tentu sehat. Jadi tubuh yang gemuk itu tidak selamanya sehat loh. Untuk itu, memperhatikan pola makan dan kegiatan anak sebaiknya dikontrol supaya anak tetaplah tumbuh sehat sebagaimana semestinya.

Sebab anak-anak yang sehat adalah impian semua orang tua, namun masih ada orang tua yang memanjakan anaknya dengan aneka makanan tanpa memperhatikan apakah makanan dan minuman tersebut baik bagi kesehatan mereka. Orang tua masih ada yang lebih memilih “praktis” dengan membelikan anaknya junk food, ataupun menyetok makanan yang cepat dibuat padahal mengandung pengawet, hal itu jelas-jelas itu tidak bagus bagi anak-anak.

Selain itu, masih ada juga orang tua yang belum faham tentang bagaimana sebenarnya pola makanan yang sehat itu. hal ini terbukti dari semakin banyaknya anak-anak yang mengalami gizi buruk ataupun obesitas dan sederet masalah kesehatan lainnya. 

Untuk itu dalam momentum memperingati hari kesehatan nasional dan hari anak sedunia 2017 maka Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) bekerjasama dengan Dharma Wanita Persatuan (DWP) Kementerian Pemuda dan Olahraga, mengajak kementerian, LSM, dan koalisi pemerintah dan organisasi masyarakat pemerhati pangan anak serta masyarakat untuk melakukan penandatanganan Komitmen Bersama dalam rangka mewujudkan Generasi Emas 2045.

Suasana acara untuk mewujudkan Generasi Indonesia Emas 2045
 Acara yang digelar di Museum Olahraga Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini mengangkat tema “Melindungi Anak Indonesia dari Pangan yang Tidak Sehat” pada tanggal 19 November 2017 sengaja membahas hal ini karena diprediksi pada tahun 2015 – 2035 Indonesia akan mengalami potensi kerugian hingga Rp. 71 ribu triliun akibat penyakit tidak menular. Evidence & Analytics yang merupakan lembaga riset kesehatan yang berbasis di Mancester – Inggris, menyebutkan kerugian itu merupakan akumulasi dari biaya pengobatan dan berbagai pengeluaran sebagai dampak penyakit, termasuk hilangnya produktivitas penderita di usia kerja. 

Besar juga ya ternyata biaya yang harus dikeluarkan untuk menangani penyakit tidak menular ini. Dan jika ditelisik, angka tersebut tidak hanya menjadi tanggungan orang per orang tapi juga nantinya akan berdampak pada kerugian Negara secara umum, hal ini tentu saja akan menimbulkan kerugian secara materi akibat biaya berobat serta kerugian akibat berkurangnya produktivitas kita yang juga berdampak pada terhambatnya pembangunan.

Melihat hal ini tentu saja menjadi keresahan semua orang, hal ini pun diungkapkan oleh dr. Winny Gunarti selaku Ketua Yayasan Abiphraya Insan Cendekia Indonesia (YAICI) “Untuk menekan potensi kerugian Negara tersebut, yang perlu dilakukan adalah melindungi anak-anak dari resiko terkana penyakit tidak menular. Karena anak-anak hari ini yang akan menjadi generasi penggerak Indonesia di masa mendatang. Dengan melindungi anak-anak hari ini, kita turut melindungi generasi emas Indonesia 2045.”

Tapi sebenarnya beban kerugian tersebut sebenarnya bisa ditekan hingga Rp. 16.900 triliun bila pemerintah bisa mengatasi angka kematian akibat penyakit tidak menular seperti jantung dan diabetes. Bahkan ternyata data Riskesdas 2013 menunjukan prevelensi diabetes di Indonesia cenderung meningkat yaitu dari 5,7% pada tahun 2017 menjadi 6,9% pada tahun 2013. Bahkan seramnya lagi, ternyata diabetes tercatat sebagai pembunuh nomor 3 di Indonesia.  

Sungguh sangat mengkhawatirkan ya ternyata diabetes ini, untuk itu sebagai orang tua harus bisa memperhatikan dan menjaga pola makanan anak-anak. Dimana menu makan harus mendapatkan nutrisi yang dibutuhkan oleh tubuh bukan hanya yang diinginkan anak-anak.

Senada dengan hal tersebut, Bu Winny juga menegaskan “Biasanya anaka-anak menyukai makanan yang manis, yang mengandung gula tinggi. Padahal kita tahu, bila anak sudah terbiasa dengan makanan manis akan mengganggu pola makan anak dan juga tumbuh kembangnya, resiko kerusakan gigi, obesitas, daan ancaman diabetes.”

Untuk itu, orang tua sebagai guru terdekat bagi anak dalam rumah tangga tentu sangat diharapkan dapat teredukasi dan bisa memilah nutrisi yang dibutuhkan oleh anak dan yang tidak baik bagi anak. Dan jangan sampai terjebak dengan promosi makanan  dan minuman tidak sehat yang makin marak terjadi dimana-mana belakangan ini.

“Kami menghimbau produsen untuk dapat lebih bertanggung jawab dalam beriklan,
Dan pemerintah juga lebih peduli terhadap persoalan ini” – Ibu dr. Winny Gunarti -

Jelas dari penuturan tersebut di atas, Ibu Winny mengharapkan semua kegiatan promosi produk makanan dan minuman melalui berbagai media, baik cetak, elektronik harus selaras dengan program Gerakan Masyarakat Sehat (Germas) yang digagas oleh pemerintah. Kementerian Kesehatan sangat peduli dengan pola hidup sehat masyarakat untuk menyukseskan program nasional ini.
Ingat! SKM itu bukan Susu
Himbauan ini juga tertuju untuk para produsen produk Susu Kental Manis (SKM) agar jangan menyesatkan masyarakat dengan mengkampanyekan bahwa SKM adalah susu, padahal SKM itu bukanlah susu. Sebab SKM itu ternyata memiliki kandungan lemak dan gula yang sangat tinggi, dan sebaliknya kandungan protein dan kalsium yang dibutuhkan oleh tubuh manusia justru sangat rendah. Bahkan konon katanya SKM itu bisa menjadi penyebab badan menjadi gemuk karena tingginya kandungan lemak dan gula.

Dan kenyataan tentang SKM ini masih banyak belum diketahui dan disadari oleh para orang tua, jika hal ini terus dibiarkan tentu akan sangat berbahaya bagi anak-anak mereka. Dan SKM jelas bukan susu karena SKM itu mengandung tinggi gula, Rendah Protein dan Kalsium.
SKM itu Tinggi Kandungan Gula
Kandungan gula dalam SKM sangat tinggi jika dibandingkan dengan jenis susu yang lain (susu bubuk, suhu UHT, dll). Dalam satu takaran saji yang tertulis pada kemasan SKM (4 sendok makan SKM dilarutkan dengan 150 mL air hangat) dengan kandungan gula sekitar 20 gram atau setara dengan 2 sendok makan gula. 

Padahal WHO sangat menganjurkan untuk anak usia 1-3 tahun maksimal 28 gram gula per hari atau setara dengan 3 sendok makan, sedangkan untuk anak usia 4-6 tahun maksimal 40 gram gula per hari atau setara dengan 4 sendok makan. Padahal anak biasa mengonsumsi susu sehari 2 kali, yaitu pagi ketika sarapan dan malam ketika akan tidur, belum lagi jika anak mengonsumsi makanan lain yang mengandung gula seperti permen, kue dan biskuit. Maka bisa dibayangkan apa yang akan terjadi jika sudah begini, obesitas dan penyakit diabetes serta penyakit lainnya seperti jantung dan stroke siap menanti anak-anak kita.
SKM itu Rendah Kandungan Protein & Kalsium
Ketika mengonsumsi SKM sebagai minuman susu dengan mengikuti saran penyajian yang tertulis pada kemasan SKM maka akan mendapatkan asupan protein hanya 3 gram saja. Sementara asupan protein yang dibutuhkan anak usia 1-3 tahun dan 4-6 tahun sesuai dengan Peraturan Menteri Kesehatan RI nomor 75 Tahun 2013 tentang Angka Kecukupan Gizi (AKG) yang dianjurkan bagi bangsa Indonesia adalah 26 gr/hari dan 35 gr/hari. Berarti jumlah protein yang didapatkan dari segelas SKM sangat sedikit dan kandungan kalsium dalam SKM paling rendah dibandingkan dengan jenis susu yang lainnya. Padahal masih banyak masyarakat yang memberikan susu kepada anaknya bertujuan untuk mencukupi kebutuhan protein dan kalsium anak.
Untuk itu, SKM sebaiknya hanya dikonsumsi oleh orang dewasa saja itupun jangan terlalu sering. Misalnya sebagai topping penambah rasa pada makanan dan minuman, seperti untuk es buah, martabak manis, aneka kue dan sebagainya, dan SKM itu bukan untuk dikonsumsi sebagai minuman layaknya susu oleh anak-anak bahkan bayi.
inilah anak-anak yang menjadi calon pemimpin masa depan
Namun anehnya, hingga saat ini saya masih melihat produk SKM yang masih dipromosikan melalui berbagai media dengan menggunakan anak-anak dan diiklankan sebagai susu untuk anak-anak. Promosi semacam ini sunguh menyesatkan masyarakat karena dapat berdampak buruk bagi anak-anak, misalnya obesitas dan terjangkit penyakit diabetes sejak dini.

Melihat hal ini, tentu pemerintah sebagai pemangku kekuasaan harus mengaturnya secara tegas, sebab jika tidak, bukan hal yang mustahil kedepan nanti Indonesia akan menghadapi ancaman kesehatan dan ekonomi yang cukup serius karena harus menanggulangi masalah obesitas dan diabetes yang dapat menjalar ke berbagai penyakit degeneratif lainnya.
Jangan sampai anak-anak Generasi Emas ini menjadi korban SKM
Untuk itu, iklan SKM yang menyatakan bahwa SKM adalah susu yang bergizi untuk anak harus dilarang, dan pemerintah harus segera menerbitkan peraturan perundang-undangan yang jelas dan tegas. SKM boleh diiklankan tetapi bukan sebagai susu untuk anak, dan hanya diiklankan sebagai penambah rasa atau topping pada makanan atau minuman saja.

Kenapa ini harus dilakukan secepatnya oleh pemerintah?

Sebab hal itu akan memicu meningkatnya jumlah penderita penyakit diabetes, jantung dan sebagainya, dan nantinya akan berujung juga kepada akan tingginya risiko kerugian negara untuk mengobati penderita obesitas, diabetes, darah tinggi dan penyakit turunan lainnya tersebut.

Makanya, daripada Negara mengeluarkan anggaran yang sangat besar untuk biaya penyembuhan penderita penyakit diabetes, jantung dan sebagainya nantinya, Untuk itu, ketegasan pemerintah sebagai pemegang kekuasaan tentu sangat berperan penting dalam hal ini. Misalnya adanya kerjasama antara  Kementerian Kesehatan dengan Badan Pengawasan Obat dan Makanan (BPOM) dalam menerbitkan berbagai kebijakan yang terkait dengan pengontrolan pangan dengan kadar gula dan lemak tinggi serta dikonsumsi oleh anak-anak.

Sehingga dengan adanya aturan yang jelas dan tegas, diharapkan para Produsen SKM bisa menghentikan segala iklan yang menyebutkan bahwa SKM adalah susu, masyarakat jangan terus disesatkan dengan iklan yang salah. Namun di sisi lain, kita sebagai orang tua pun, harus aware juga dengan hal semacam ini, dan jangan lagi terkecoh dengan iklan SKM yang masih marak saat ini.

Selain itu, para orang tua juga harus turut dalam melakukan Gerakan Masyarakat Hidup Sehat (GERMAS). Hal ini digalakan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia karena GERMAS merupakan upaya promotif dan preventif masyarakat dengan tujuan untuk:
  • Menurunkan beban penyakit menular dan penyakit tidak menular, baik kematian maupun kecacatan.
  • Menghindarkan terjadinya penurunan produktivitas penduduk.
  • Menurunkan beban pembiayaan pelayanan kesehatan karena meningkatnya penyakit dan pengeluaran kesehatan.
  • Penguatan sistem kesehatan; Pendekatan siklus hidup; Jaminan Kesehatan Nasional (JKN); dan berfokus pada pemerataan layanan.
Dimana gerakan ini akan dimulai dengan 3 fokus kegiatan, yaitu meningkatkan aktifitas fisik, konsumsi sayur dan buah, serta deteksi dini penyakit tidak menular (PTM) maka dengan menerapkan 3 kunci utama ini diharapkan apa yang menjadi tujuan dari GERMAS ini nantinya bisa tecapai.
Selain bergerak aktif, anak-anak dibiasakan untuk konsumsi buah dan sayur juga
Dan hal yang paling mudah yang bisa kita lakukan adalah mengajak seluruh anggota keluarga terlebih anak-anak untuk terbiasa melakukan banyak kegiatan fisik dan bergerak secara rutin melalui olahraga agar tubuhnya selalu sehat dan bugar. Karena jika tubuh anak sehat maka anak-anak akan menjadi mudah menyerap pelajaran dengan baik. Makanya kemarin juga semua anak diajak melakukan senam poco-poco bersama. Selain itu, anak-anak juga dikenalkan dengan macam buah-buahan supaya nantinya doyan untuk makan buah.

Untuk itu, melalui momentum Hari Kesehatan Nasional 2017 kemarin maka semua pihak diajak saling bahu-membahu untuk ikut bersosialisasi dan mengedukasi masyarakat dengan menandatangani komitmen bersama yang diakukan oleh Yayasan Abhipraya Insan Cendekia Indonesia, FOKBI, Dewan Kesehatan Rakyat, PP Muslimat Fatayat NU, KPI, KPAI, dan HIMPAUDI untuk melindungi anak dari pangan yang tidak sehat.
Penandatangan Komitmen Bersama
Semoga dengan penandatangan komitmen bersama ini, maka target pemerintah untuk mewujudkan Generasi Emas Indonesia di tahun 2045 akan tercapai, yaitu menjadikan anak-anak yang terlahir saat ini tumbuh menjadi pribadi yang sehat jiwa dan raganya sebagai bekal meraka untuk memimpin negeri ini di masa yang akan datang.

No comments:

Post a Comment