Minggu, 24 Mei 2015

Inikah Cinta? - (4)



"Bodoh, kenapa aku bisa sekasar itu tadi" Umpat Rama kesal pada dirinya sendiri. Dia menyadari tak sepatutnya Suster Risma dibentak seperti itu tadi.

Rama mencoba bangun dari tempat tidurnya, lalu melangkah tergesa-gesa dengan bantuan tongkat dikedua tangannya, namun lorong rumah tampak lengang, hanya seorang cleaning service yang sedang menyapu halaman yang tampak disana, Suster Risma sudah tidak terlihat sama sekali.
"Cepat bangat dia menghilang" Gumam Rama sembari mengembarakan matanya di sepanjang lorong dan taman, tapi nihil.

Rama kembali masuk ke kamarnya dan bersandar pada kursi dan meraih remote TV, namun tak ada tayangan yang benar-benar ditontonnya, Rama hanya ingin ruangan itu tidak sunyi, sesepi hatinya yang kini hampa dan kesepian.

Rama memencet bell di sampingnya untuk memanggil suster, dan tak lama berselang seorang suster muda melangkah masuk "Ada yang bisa saya bantu Pak, Bapak ada keluhan?" Tanya suster itu mendekati Rama.

"Saya butuh Suster Risma, apakah dia bisa kesini?" Pinta Rama dengan suara yang parau.

"Suster Rismanya sudah pulang Bapak, baru saja pergi, Beliau akan bertugas kembali nanti malam" ucap Suster Emma kalem.

"Tapi jika Bapak butuh bantuan apa-apa, sama saya juga bisa Pak, saya kan juga suster" Tampah suster Emma sambil tersenyum menggoda.

"Kalo gitu saya minta nomor HPnya Suster Risma, kamu punya kan?" Tanya Rama cool.

"Kenapa bukan nomor HP saya saja sih" Gumam Suster Emma dalam hati, Saya juga kan tidak kalah cantik dengan suster Risma.

"Kok diam, nomornya ada nggak?" Wajah Rama tampak penasaran.

"Iya sebentar" Gagap Suster Emma merogoh HP di kantong bajunya.

"0813000090**" lanjut Suster Emma.

"Terima Kasih" ucap Rama tulus.

"Sama-sama Pak" tersipu Suster Emma melihat senyum memancar di bibir Rama.

"Ada yang perlu saya bantu lagi Pak?, ooh iya Bapak belum makan, saya suapin ya?" Pinta suster Emma penuh harap.

"Terima kadih suster, tapi tidak usah, saya bisa makan sendiri, tolong tinggalkan saya sendirian ya" pinta Rama sopan yang disambut dengan wajah sedih dihati suster Emma.

Setelah suster Emma pergi, Rama langsung menelpon Risma, namun handphonenya tidak juga diangkat meski sudah berkali-kali Rama menghubunginya.

"Jangan-jangan Suster Risma benaran marah makanya tidak mengangkat telphonenya" celoteh hati Rama gundah.

Urusan menghubungi Suster Risma dipendingnya dulu, lantaran Rama mulai menyadari perutnya keroncongan, Rama mencoba menyantap sarapan dan meminum obatnya, dan tak lama rasa ngantuk yang berlebihan menghinggapi Rama, seketika Rama pun tumbang diatas ranjang tanpa tertutup selimut.

Dan ternyata sedari tadi ada sepasang mata dibalik jendela yang mengamati Rama, diapun tersenyum licik "Selamat tidur bodoh, kau telah menelan obat tidur dalam dosis yang banyak, semoga kamu tidak pernah bangun untuk selamanya".


Bersambung...
#CerMinBer (Cerita Mini Bersambung) 

4 komentar:

  1. Obat tidur dalam dosis yang banyak?
    Wah, jadi penasaran lanjutannya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. iya ni Kang Azzet, ada yang kasih obat tidur yang banyak sama Rama, gimana ya nasibnya setelah ini?

      semoga lanjutannya segera terbit :)

      Hapus
  2. wahh ada cinta toh ternyata :D ditunggu kelanjutannya mas :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Icha ada cinta dimana-mana ini... hehehehe
      OK Mba Icha, semoga saya cepat dapat ide lanjutannya... :D

      Hapus