Saya dulu termasuk orang yang berpikir, “Kalau gigi tidak sakit, berarti tidak ada masalah.” Menyikat gigi dua kali sehari rasanya sudah cukup. Senyum masih terlihat baik-baik saja, jadi untuk apa repot-repot ke dokter gigi hanya untuk scaling?



Dan itulah kenyataanya,

kisah kita kandas di ujung musim semi yang suram,

aku hanya mampu terisak memeluk harap

yang tak merestui inginku,

menjadikanmu akhir pencarianku.



Awalnya saya mengira itu hanya rasa tidak nyaman biasa. Sedikit ngilu di bagian belakang gigi, mungkin karena terlalu banyak minum es atau kurang minum air putih. Namun keesokan paginya, saat bercermin, saya terdiam. Gusi saya tampak membengkak dan kemerahan. Ketika lidah menyentuhnya, terasa nyeri. Sejak saat itu, hari-hari terasa berbeda.




Aku seketika seperti angin yang ragu berhembus,

menyimpan bisik di balik dada yang kelu,

sementara waktu berjalan tanpa menoleh,

membiarkan rasa ini tumbuh,

menanggung rindu yang kerap kambuh.
Hoz Pasta Kebagusan

Ada satu fase di mana saya benar-benar merasa penat dengan rutinitas pekerjaan yang seolah tidak ada jedanya. Hari-hari terasa monoton, penuh deadline, dan kadang membuat saya lupa bagaimana rasanya menikmati waktu santai. Di momen seperti itu, yang saya butuhkan sebenarnya sederhana: kumpul bareng teman-teman.

Me time versi saya bukan selalu sendiri, tapi justru berbagi tawa dengan orang-orang terdekat. Dari situlah muncul ide spontan untuk mencari kafe pasta dan pizza Jakarta yang nyaman, enak, dan tentunya tidak bikin kantong bolong.




Aku terlelap,

dalam pelukan sunyi yang tak benar-benar sepi..,

sebab di sana,

kau masih bernafas sebagai kenangan.


Di era digital seperti sekarang, Generasi Z dikenal kreatif, tech-savvy, dan punya banyak peluang penghasilan. Mulai dari freelance, content creator, affiliate, sampai side hustle online. Tapi ada satu masalah klasik yang sering muncul: uang cepat datang, cepat juga hilang.

Gaji baru masuk, beberapa hari kemudian saldo tinggal sisa kenangan.