Mengapa engkau waktu itu
Putuskan cintaku
Dan saat ini engkau selalu ingin bertemu
Dan memulai jalin cinta

Mau dikatakan apa lagi
Kita tak akan pernah satu
Engkau di sana, aku di sini
Meski hatiku memilihmu

Kembali rasa asing itu hadir,
Menyusup dalam sunyi yang ringkih,
Endapkan luka yang menguras air mata,
Perih yang menancap seharusnya membuatku meronta,
Tapi aku membungkamnya dalam diam.

Aku tahu,
Tak selayaknya rasa sayang ini masih bernaung di hatiku,
Tak seharusnya aku masih memendam rindu padamu,
Tak semestinya rasa ingin memilikimu masih bertahta di relungku.

Akhirnya aku sampai juga di titik ini,
Titik dimana lelah benar-benar mendera,
Dan aku akhirnya memutuskan untuk berhenti,
Tak lagi berlari untuk mengejarmu,
Setelah kutahu hatimu tak lagi untuk ku.
 

Hidup ini begitu penuh misteri. Tak ada yang bisa meramal dengan tepat apa yang akan menimpa hidup seseorang, bahkan dalam hitungan sedetik ke depan, kita tak bisa tahu dengan jelas apa yang akan terjadi. Meski kita sudah memplaning segala sesuatunya, namun terkadang yang terjadi justru sesuatu yang lain.

Saya jadi ingat satu kejadian yang menimpa seorang teman. Pagi itu dia masih terlihat sehat-sehat saja, namun tak berselang lama, saya mendapat kabar bahwa dia mendadak pingsan di ruang kerjanya dan dilarikan ke rumah sakit.

Aku yang tersesat di belantara rindu,
Menapaki riuh bayangmu yang tak pernah surut,
Dan kini kau menawanku dalam bimbang,
Terasingkan di keramaian yang ada,
Namun tak apa,
Aku akan terus menyusurimu dalam diam,
Mengikuti labirin waktu yang berliku,
Dan aku rela tersesat,
Asalkan berakhir bahagia dengan mu.

Berita tentang orang bunuh diri karena tak kuat dibully mungkin bukan lagi cerita yang baru. Sudah sangat sering kita dengar berita seperti ini tersebar di berbagai media masa juga media sosial.

Namun anehnya, masih banyak saja orang yang tak pandai menjaga ucapannya, terus saja membully orang lain dengan begitu mudahnya, tanpa memikirkan apa efek dari kelakukannya.