Di langit yang redup, bintang-bintang berjarak,
seperti kenangan tentangmu yang kian menjauh
dari jantung yang dulu memanggil namamu tanpa ragu.
Angin menyusuri jendela, membawa bisik yang letih.
Kusandarkan tubuh pada gelap
dan membiarkannya menyapu jejakmu
dari sudut-sudut pikiranku
yang pernah kausinggahi tanpa permisi.
Tak ada lagi suara yang menggaung,
hanya detak yang belajar berdamai dengan sepi.
Namamu, yang dulu berkilau seperti mutiara,
kini luruh bersama embun
yang jatuh tanpa ingin dikenang pagi.
Dan ketika kantuk akhirnya memelukku,
aku tahu malam telah bekerja dengan sabar
menghapus namamu dari dinding-dinding ingatan,
menyisakan ruang kosong
agar esok dapat kutulis cerita lain dengan tenang.
Kusandarkan tubuh pada gelap
dan membiarkannya menyapu jejakmu
dari sudut-sudut pikiranku
yang pernah kausinggahi tanpa permisi.
Tak ada lagi suara yang menggaung,
hanya detak yang belajar berdamai dengan sepi.
Namamu, yang dulu berkilau seperti mutiara,
kini luruh bersama embun
yang jatuh tanpa ingin dikenang pagi.
Dan ketika kantuk akhirnya memelukku,
aku tahu malam telah bekerja dengan sabar
menghapus namamu dari dinding-dinding ingatan,
menyisakan ruang kosong
agar esok dapat kutulis cerita lain dengan tenang.



No comments:
Post a Comment