Kau adalah puisi yang kujamah semalam,
Di antara kubangan rindu yang tak pernah luput merajam ingatan,
Kupunguti satu per satu senyummu yang tanggal di bibir langit,
Dan yang tersisa hanya air mata yang mengembun di ujung sajadah.
Pagi ini rindu membuncah seperti candu,
Menelanjangi warasku dengan senyummu,
Menabuh gelisah pada detak jantungku,
Mengayunkan tanya yang bertubi-tubi,
Tapi hanya menguap tak ada jawabnya,
Tersaji hanya bisu, yang merisau dalam sesal.


Liburan ke Semarang kemarin itu masih terngiang-ngiang diingatan saya sampai saat ini. Menapaki satu demi saatu tempat wisata yang indah dengan sederet kisah dan sejarah yang melatar-belakanginya membuat saya mendapatkan informasi dan ilmu baru.


Gelisah hati,
Menanti kau tuk kembali
Lama kau pergi,
Sewindu lelah menanti

Kuberharap hatimu,
rindu diriku selalu
Dimanakah dirimu, kekasihku

Andai saja kau tahu, yang kurasa
Kuinginkan hatimu di sisiku
Peluklah aku, dekap diriku

Kuatkan hati,
Melangkah untuk mencari
Waktu berganti,
Asaku takkan berhenti.

Hidup di Jakarta ini memang susah, terlebih jika kita hidup seorang diri dan tidak punya sanak saudara yang dekat, ditambah tidak punya asisten rumah tangga yang bisa mengurus rumah sedangkan kita begitu sibuk dengan urusan pekerjaan. Belum usai lelah karena bekerja seharian di kantor, kita juga dihadapakan dengan sederet pekerjaan lain di rumah, harus mengurus rumah, memasak, mencuci, berbelanja, dan lain sebagainya, hidup terasa benar-benar melelahkan, waktu 24 jam seolah tidak pernah cukup.
Riuh!
Riuh!
Riuh kau meraung,
Gempita suara lantangmu menderu,
Berseru menentang jaman yang keruh.

Gelisah hati, menanti kau tuk kembali
Lama kau pergi, sewindu lelah menanti
Kuberharap hatimu, rindu diriku selalu
Di manakah dirimu, kekasihku?

***