“Berpenampilan menarik itu pilihan, setiap orang punya hak untuk itu.” begitulah nasehat dari seorang teman yang masih terngiang-ngiang sampai sekarang. Iya, karena dulu saya termasuk orang yang agak cuek untuk berpenampilan, kemana-mana sangat santai dengan koas doang.

Saya setuju bangat sih bahwa untuk berpenampilan itu perlu bangat, namun tentu saja harus disesuikan dengan situasi dan kondisi kita atau acara yang kita datangin. Tapi yang terpenting harus sesuaikan dengan isi dompet, jangan sampai karena ingin berpenampilan yang menarik malah melakukan hal-hal yang merugikan orang lain, seperti menipu ataupun mencuri.




Travaling sudah menjadi gaya hidup masyarakat jaman sekarang, makanya bisa dibilang hampir semua orang pasti senang untuk jalan-jalan, karena aktivitas yang satu ini memang sangat mengasyikan, kita bisa menjelajah jauh dengan melihat banyak hal baru yang akan memperkaya pengetahuan dan pengalaman kita di tempat yang akan kita temui.

Selain ini, traveling merupakan sebuah agenda wajib yang perlu ada dalam kehidupan sebagain besar orang, karena traveling merupakan salah satu cara termudah untuk membuat pikiran menjadi lebih rileks, lebih tenang dan kembali fresh terlebih bagi orang-orang yang kesehariannya sering dirundung stress dengan banyak deadline kerjaan yang seolah tak henti. 


Wejangan supaya tidak foya-foya menghabiskan gaji yang saya terima setiap bulan kerap dinasehatkan oleh orang tua saya. Iya mereka tak henti-hentinya mengingatkan saya supaya mulai memikirkan juga untuk mempersiapkan keuangan untuk masa depan, karena hal itu salah satu kewajiban dalam mempersiapakan masa depan yang cerah. Untuk itu, selama ini saya coba menyisihkan gaji saya dan menabungnya.

Dan beberapa waktu yang lalu seorang teman bercerita bahwa selain menabung, ternyata kita harus mulai berinvestasi dan menjadikan kegiatan tersebut sebagai keharusan untuk dilakukan. Pilihan investasi sendiri sangatlah banyak, kita bisa mulai dari membeli rumah, tanah, atau perhiasan, sampai membangun usaha.


Pada 4 Oktober 2017 lalu, saya sempat menghadiri acara peluncuran Program Michelin Safety Academy (MSA) di Meradelima Restaurant yang pernah saya tulis di sini. Dimana program Michelin Safety Academy (MSA) ini merupakan program rutin tahunan yang diadakan oleh Michelin Indonesia dan kini sudah digelar selama empat tahun belakangan ini. 

Program Michelin Safety Academy (MSA) ini sengaja digelar oleh Michelin untuk memberikan pelatihan kepada anak-anak SMA tentang bagaimana berkendara yang aman untuk meminimalisir angka kecelakaan lalu lintas bagi pengguna kendaraan pemula.



Saat diajak untuk menghadiri acara ngobrol santai dengan Menteri BUMN, jujur saya berpikir pasti acaranya akan penuh dengan aturan yang protokoler bangat sehingga akan bikin acaranya akan membosankan. 

Namun ternyata saya keliru, acaranya benar-benar santai bangat. Bahkan di saat  saya dan teman-teman Blogger tengah asyik menikmati makan malam, Bu Rini Soemarno selaku Menteri BUMN justru mendatangi kami dan mengajak ngobrol santai, Beliau ternyata sangat ramah, bahkan sabar bangat meladeni saya dan teman-teman Blogger yang minta foto bareng dengan Beliau. Iya dong, kapan lagi kesempatan ketemu dan foto bareng Bu Rini. Hehehe


Seram juga ya, ternyata menurut data Korlantas Polri Kuartal Kedua 2017 ternyata lebih dari sepertiga jumlah kecelakaan di Indonesia melibatkan pengendara berumur 15-24 tahun. Dengan jumlah yang sama yaitu sekitar 8.700 kejadian di antaranya, melibatkan pengendara motor yang sebagaian besar tidak memiliki Surat Ijin Mengemudi (SIM). 

Melihat angka kecelakaan ini, tentu saja menjadi PR bagi kita bersama, mulai dari orang tua, guru, hingga pihak terkait untuk selalu mengingatkan pada para pengendara supaya selalu mengedepankan keselamatan saat berkendara.

Merasa terpanggil untuk ikut andil mengurangi angka kecelakaan di jalanan ini, maka Rabu (04/10/17) kemarin, Michelin (perusahaan ban terkemuka di dunia) mengadakan talk show seputar bagaimana mengedukasi para pengendara pemula untuk berkendara secara aman.
Maskot Michelin

Di era yang katanya modern ini, kita semakin mudah untuk mengetahui berbagai kondisi yang terjadi dengan begitu cepat tersebar karena pengaruh adanya internet. Di media sosial, di berita online hingga di group-group komunitas kita dengan mudah mendapatkan berbagai berita, termasuk maraknya anak-anak usia sekolah yang terpaksa putus sekolah karena himpitan ekonomi yang tak memungkinkannya untuk meneruskan sekolah.

Iya, kerap kita lihat, di lampu-lampu merah, di bus-bus umum, di stasiun-stasiun kota, di jalan-jalan raya, kita sering melihat begitu banyak anak-anak kecil yang harus menjadi pengamen, peminta-minta, penjajal koran, penjual asongan, dan sederet pekerjaan lain yang harus dipikulnya di usia yang sangat dini demi mencari sesuap nasi dan "melupakan" meraih ilmu di bangku sekolah.