Sabtu, 25 Juli 2015

Dibuang Bapak


Hari ini udara pagi sangat dingin, sampai jari-jari tanganku kaku dan membiru. Ibu memakaikanku jaket, lalu topi kipluk dan sarung tangan dan juga kaos kaki.

"Tetap diatas tempat tidur ya sayang, Jangan kemana-mana ya, Ibu mau masak dulu" ucap Ibuku lalu bergegas meninggalkan aku dikamar menuju dapur.

Aku menyibak gorden jendela kamarku yang lusuh, menatap  kabut yang tampak begitu pekat diluar, seolah pagi ini dikepung asap tebal, jarak pandangku pun hanya mampu menjajal daun-daun singkong dihalaman rumah.

"Buuuu, kopi mana?" Gelegar suara Bapak memecah kesunyian pagi yang benar-benar hening.

"Oooh Bapak sudah pulang dari kebun" gumamku senang.

Ku dengar gerak langkah Ibu yang melewati kamarku, tampak segelas kopi yang masih mengebulkan asap ditangan Ibu. Dan aroma kopinya membuatku sungguh tergoda.

"Mengapa muka Bapak  seperti itu" tanya Ibu sembari memindahkan kopi dari nampan keatas meja kayu di depan Bapak.

"Sepertinya gagal panen lagi kita Bu, cabe dan tomat banyak yang busuk karena cuaca yang buruk seperti ini"  Bapak berdiri menggantung topi koboynya pada paku di dekat pintu.

Aku hanya mematung dibibir pintu kamarku, melihat Ibu dan Bapak yang masih membahas tentang cuaca dan hasil panen yang terancam gagal pada musim panen kali ini.

"Tapi mau bagaimana lagi Pak, kita tak bisa melawan cuaca, belum rejeki kita Pak" Suara Ibu mencoba bijak menenangkan Bapak.

Tampak Bapak mengurungkan langkahnya dan kembali duduk dikursi kayu jati didekat pintu, dan kulihat dengan jelas kecewa tergambar sangat nyata diraut wajah Bapak.

"Kenapa Tuhan mengirim cuaca buruk disaat musim panen seperti ini?" Umpat Bapak kesal.

"Iling Pak, Istigfar... tidak baik berprasangka buruk pada Gusti Allah" Timpal Ibu mengingatkan Bapak.

"Anak itu benar-benar pembawa sial, benar kata Ki Jarot, selama anak itu dirumah ini, apapun usaha kita tak akan ada yang sukses" Gusar Bapak lantang.

"Pak Istigfar.., jangan semua kejadian buruk dihidup kita dikaitkan dengan kehadiran Nando" tantang Ibu sengit.

"Tapi kenyataannya begitu Bu, sejak dia hadir di hidup kita, selalu saja banyak masalah, dan anak itu bisanya hanya bikin malu dengan wujudnya yang tidak jelas itu" Emosi Bapak memuncak.

"Pak sadar, jangan selalu anak itu dijadikan tumbal untuk setiap kegagalan dan emosimu, dan tak sepantasnya Bapak merendahkan pemberian Allah dengan berbicara seperti ini" ucap Ibu kesal.

"Tapi itu kenyataannya Bu" nada suara Bapak meninggi.

"Cukup Pak!" Potong Ibu dalam tangisnya yang tertahan.

Bapak menghela nafasnya dengan berat, lalu membakar sebatang rokok di teras. Kemudian sunyi kembali berdetak, membawa langkah ibu kembali ke dapur dan aku tersudut diujung jendela kaca yang rabun.

"Apakah benar, aku ini telah membawa sial untuk keluarga ini?" Menderu tanya ini hadir menyapaku.

Masihku ingat, kemarin Ibu Munah mengoceh dengan Ibu-ibu lain saat kulewat bersama Ibu sepulang dari kebun, kalo kehadiranku dikeluarga ini selalu membawa banyak masalah dan kesialan.

Airmataku jatuh tak mampu ku cegah kala mengingat semua itu, namun cepatku hapus dengan ujung jaketku.

"Kamu itu adalah matahari dirumah ini, kamu adalah harta Ibu dan Bapak yang paling berharga, jadi jangan pernah dengarkan apa kata orang lain yang menjelek-jelekan kamu" Selalu dan selalu Ibu menyemangatiku dengan kalimat ini jika aku sedih karena diolok-olok atau dihina orang lain, dan pelukan Ibu selalu membuatku tenang.

"Ayo kamu ikut Bapak" tanganku diraih oleh Bapak membuatku sedikit terkaget dari lamunanku.

Bapak menarik tanganku dengan kasar. Dan tanpa mampu kulawan, aku digiring oleh Bapak keluar rumah, menembus kabut pagi yang masih kental.

Aku tak punya pilihan lain selain mengikuti jalan Bapak yang masih erat menggenggam tanganku seolah takut aku kabur.

Dalam diam, langkah yang kami lewati dipenuhi embun-embun yang menyirami rumput liar, lalu menembus pohon pinus yang berjejer lebat, mendaki tanjakan bebatuan kapur yang basah, lalu melewati sungai kecil dengan airnya yang keruh.

"Kemana Bapak akan membawaku pergi, ini bukan jalan menuju kebun" gumamku resah.

Aku benar-benar tidak tahu kemana Bapak akan membawaku pergi, kakiku sudah mulai kepayahan menahan letih, tapi Bapak masih terus berjalan sampai akhirnya aku tersadar kini kami memasuki dinding sebuah gua.

"Kamu tunggu disini, jangan kemana-mana" ucap Bapak menatapku lekat sebelum pergi meninggalkanku.

Aku duduk dibongkahan batu sembari bersandar pada dinding gua, mataku masih terjaga menatap dari arah tadi Bapak pergi, aku masih menunggu Bapak balik menjemputku.

Waktu berlalu, entah sudah berapa lama waktu bergulir, dan tiba-tiba gerimis mulai turun, akupun mulai dihasut ketakutan ketika petir mulai bergelegar membelah langit, aku benar-benar takut, aku pengen sembunyi dipelukan Ibu.

"Ibu... Ibu... Ibu...." panggilku penuh harap.

Udara dingin, rasa takut, rasa lelah, lapar dan juga ngantuk akhirnya membuatku tertidur, terlelap yang cukup lama.

Namun sebuah mimpi membangunkanku, aku melihat wajah Bapak yang tertawa bahagia sambil berteriak "Akhirnya anak pembawa sial itu telah pergi dari hidupku".

Airmataku jatuh, saat ku sadari mimpi itu jangan-jangan isyarat jika Bapak benar-benar sudah membuangku ditempat ini.

"Jangan bersedih, kamu tidak sendirian" suara itu menggema, namun aku tak jua menemukan dari mana suara itu bermuara.

***
BACA JUGA KISAH LAINNYA (AKU DAN LARON-LARON ITU)

7 komentar:

  1. "Jangan sedih, kamu tidak sendirian..."
    Hmmm..., berasa adem dengan kalimat ini :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mas Azzet, tapi siapa gerangan yang memberi suara masih misteri... hehehe

      Hapus
  2. Hiks. Si aku anak kandung atau bukan ya mas? Sedih baca ada yang tega hanya karena "sial"
    Ikutan giveawaynya Mbak Carra Mas. Bikin Flash Fiction.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Tunggu lanjutannya ya Mas Febriyan, akan saya ungkap di cerita selanjutnya :)

      Oooh ada GA bikin FF ya? mauu dong Mas Febriyan infonya... mau coba soalnya saya masih belajar nih :)

      Hapus
  3. saya penasaran sama cerita lanjutannya :)

    BalasHapus
    Balasan
    1. Lanjutannya belum kelar nih Mba, masih mendam di draft... heheh

      Hapus
    2. Judulnya singkat pada jelas menyedihkan :(

      Hapus