Rabu, 30 September 2015

Catatan Hati Luna (4)



Malam kian merangkak pelan. Namun semakin menanjak, mata tak kunjung ingin terpejam. Udara kamar sedikit pengap terasa, mengingat kipas angin yang ada rusak sejak kemarin. Lampu kamar sengaja dimatikan, berharap gelap bisa memandu lelap. Namun pikiran pun tak mau kalah dengan mata. Menerawang ntah kemana. Alunan musik pengantar tidurpun terdengar hanya seperti ketukan-ketukan sederhana bagiku. Bahkan detik jam dinding jauh lebih jelas untuk di dengar.

Jam menunjukan 00:00. Selamat pagi. Begitu gumamku resah. Oh, ini masih terlalu dini. Terlalu pagi, jendela kamar yang sudah tertutup rapat tiba-tiba mengundang untuk dibuka. Semilir angin dingin menyapa. Langit tampak tak berbintang, Bulan entah ada di sudut mana sekarang. Senyap jalanan juga tampak dihadapan. Oh, masih adakah suara?

Benar-benar sunyi.

Rutinitas yang cukup padat belakangan ini memaksaku untuk jarang berinteraksi dengan isi kamarku sendiri. Channel tv yang tampak membosankan, deretan buku-buku yang masih terbungkus utuh juga tampak tak ingin dibaca. 

Tapi tunggu, buku? Mendadak aku teringat, Dimana buku catatan itu? Dimana aku taruh kemarin? gumamku.

Ku arahkan pandanganku sekeliling meja, di atas lemari, di bawah rak tv, juga tak nampak buku yang kucari. “Aduh, disimpan dimana ya?” Resahku sambil memutar ingatanku dengan mata yang tak berhenti menatap sekeliling kamar, atas, kiri , kanan, bawah. 

“Ah… dibawah kasur jangan-jangan” Ku ulurkan tanganku, aku coba meraba lantai dibawah kasurku dan tak lama aku berdecak senang.

“ini dia!"

Aku sudah tak heran kenapa buku ini bisa terlempar kesini... ini pasti karena kebiasaanku kalau tiba-tiba tertidur saat baca. Ah sudahlah, kebiasaan yang tak patut ditiru.

Luna… nama itu kembali hadir. Nama yang misterius. Entah seperti apa pemilik buku catatan ini, Entahlah, namun kisahnya membuat ku semakin penasaran, dan aku kembali membuka halaman demi halaman yg belum sempat kubaca sebelumnya.

Dan mataku terhenti di halaman selanjutnya yang ditulis dengan spidol hitam tebal. 


21 Jan

“Adakalanya senyum adalah topeng terbaik, Seperti halnya sebuah kacamata yang bisa mengubah wajah seseorang."


Hanya tertulis seperti itu, dan tak ada kalimat lain yang mengiringi kalimat itu pada halaman ini. Tanyapun hadir, kenapa ditulis dengan spidol tebal dan hanya kalimat satu paragraf saja? Entahlah, mungkin tinta bolpoinnya habis maka menggunakan spidol, celotehku asal.

Demi memuaskan rasa penasaran yang terus menghasut, kulantas membuka halaman selanjutnya, disini pun hanya ada satu kalimat pendek yang juga ditulis dengan spidol hitam tebal. 


22 Jan

Topeng, Topeng, Topeng…
Oh Dunia! 


Aku tak mengerti juga apa maksud dari tulisan Luna ini, aku mengerutkan keningku mencoba menalarnya, namun tetap saja nihil, aku benar-benar tak paham.

Dan akhirnya aku menyerah melanjutkan membaca buku catatanya Luna setelah rasa dingin yang berhembus dari jendela yang masih terbuka membuatku kedinginan, aku buru-buru menutupnya.

Jarum waktu telah bergulir menuju pukul setengah satu dini hari, aku pun mencoba menutup mata dalam remang karena besok aku harus bangun lebih pagi lantaran ada monthly meeting yang wajib dihadiri oleh semua karyawan.


B e r s a m b u n g...

0 komentar:

Poskan Komentar