Sabtu, 03 September 2016

"Dua Kodi Kartika" Lukiskan Perjalanan Hidup Pemilik Keke Busana

Kemarin hari Kamis, 01 September 2016 saya berkesempatan untuk menonton gala premier sebuah film yang berjudul “Dua Kodi Kartika - The Heritage of Love” di XXI Epicentrum, Kuningan, Jakarta Selatan. Mendengar judul film ini membuat hati saya bertanya-tanya, film tentang apakah ini? Rasa penasaran saya kian melambung kala melihat deretan poster film “Dua Kodi Kartika” yang memenuhi dinding-dinding bioskop.  
Poster Film Dua Kodi Kartika

Dan saya baru tahu, ternyata film ini merupakan adaptasi dari buku yang berjudul sama, yaitu “Dua Kodi Kartika” yang ditulis oleh Kang Rendy Saputra pada tahun 2015 yang lalu. Film yang diprakarsai oleh Kang Rendy ini merupakan film dokumenter yang berkisah tentang bagaimana perjalanan bisnis pemilik Keke Busana yaitu Ibu Ika Kartika atau yang akrab dipanggil Bunda Tika. 
Buku Dua Kodi Kartika karya Kang Rendy Saputra
Film yang dipayungi oleh Inspira Pictures ini bercerita tentang bagaimana seorang Ika Kartika menjalankan bisnisnya sebagai owner dari Keke Busana dari awal merintis usaha ini hingga bisa sesukses seperti sekarang ini. namun dari film ini, kita bisa belajar banyak hal menarik, bagaimana jatuh bangun yang dilalui oleh Bunda Tika untuk bisa ada di titik ini sekarang.

Hadirnya nama Keke Busana, tercetus dari kata berbahasa Sunda “Keukeh” yang artinya teguh dan pantang untuk menyerah. Dan benar saja, karena nama yang menjelma doa inilah yang membuat Bunda Tika terus berjalan maju, meski banyak kerikil tajam yang harus dihadapinya.
Bunda Tika Bersama Keluarga Besarnya
Meski diawal membangun usaha ini, Keke Busana lahir dari tiga sebab, yaitu lahir dari keterbatasan dan serba kekurangan tapi mempunyai keinginan supaya anak-anaknya bisa kuliah hingga ke luar negeri, dimulai saat masa yang sulit yaitu krisis moneter 1998, namun berkat dukungan cinta dari keluarga, maka Bunda Tika memulai usahanya ini dengan membuat 40 potong baju atau setara dua kodi di awal kehadirannya.
3 Permata Hati yang selalu membuatnya pantang menyerah
Perlahan namun pasti, usahanya yang pantang menyerah dari Bunda Tika mulai menggeliat, aneka busana muslim yang dihasilkannya berhasil mencuri banyak hati masyarakat, karena produknya tidak hanya untuk anak-anak, namun ada juga untuk orang-orang dewasa juga.

Tapi tidak ada kesuksesan yang tidak diiringi oleh peluh dan air mata, Bunda Tika pun pernah merasakan bagaimana berkubang dengan lelah, berkawan dengan air mata dan bersimbah dengan kecewa. 

Namun bersama Fahrul Farid sang suami, Bunda Tika kerap berpacu dengan dinginnya subuh dari Bojong Gede menuju Tanah Abang. Duduk berdesakan dengan karung-karung baju di sepeda motor tua milik mereka adalah perjalanan yang sudah menjadi rutinitas keseharian mereka ketika merintis usaha ini.
Bunda Tika dan Belahan Jiwanya
Dan kehilangan dua karung baju pun diawal usahanya pernah mewarnai perjalanan hidup Bunda Tika, rasa kecewa dan kesedihan tidak bisa dibendung oleh Bunda Tika, karena dua karung baju adalah modal yang tak sedikit telah raib dari depan matanya, namun untung tak dapat diraih, malang tak dapat ditolak, Bunda Tika dan Sang Suami terpaksa harus belajar sabar dan lapang dada menerima ujian tersebut, dan tidak membiarkan kesedihan dan kekecewaan berlarut-larut, maka Beliau kembali bangkit dan terus menyusun langkah dan semangat baru lagi.

Perlahan namun pasti, usaha Keke Busana dari yang awalnya hanya usaha rumahan dengan karyawan yang tidak seberapa, kini mulai berkembang dan kian lebih besar seiring dengan laris manisnya produk busana muslim yang dihasilkannya.  

Maka melihat usaha yang kian besar ini, Bunda Tika pun merasa perlu untuk melakukan perubahan sistem managemen, dimana Bunda Tika memberikan kepercayaannya pada Kang Rendy Saputra untuk menjadi CEO untuk mengelelo Keke Busana, sedangkan Bunda Tika tidak terlibat langsung di pabrik, namun hanya memantau dan mengontrol kerja karyawannya hanya dari CCTV di rumahnya sambil membat pola baju-baju yang baru dan unik-unik.

keke Busana tetap mengedepankan kekeluargaan

Dan berkat usahanya yang kian maju ini, kini ketiga putri Bunda Tika bisa mengecap pendidikan yang mereka inginkan, bahkan dua putrinya kini bisa melanjutkan kuliahnya di Melbourne – Australia sesuai impian Bunda Tika yang dulu sangat berangan-angan kuliah ke luar negeri namun tak pernah bisa diwujudkannya. Untuk itu, Bunda Tika memberikan kesempatan dan kebebasan kepada anak-anaknya untuk bersekolah setinggi-tingginya hingga ke luar negeri yang mereka mau.

Menelisik perjalanan panjang yang dilalui oleh Bunda Tika dalam film ini, maka kita akan dihadapkan pada sisi lain perjalanan hidup ini, bahwa terkadang apa yang kita lakukan, tanpa kita sadari ternyata ada orang-orang yang meresa dikecewakan. 

Hal itu pun terlihat saat pengambilan film Dokumenter yang digarap oleh seorang sutradara kawakan Mas Ali Eunoia (Finalis Eagle  Award) yang tak sengaja menemukan fakta lain, tentang luka dan kecewa yang dialami oleh salah satu karyawan Keke Busana yang sedari awal merintis usaha ini bersama-sama Bunda Tika.

Saat proses wawancara dan proses pengambilan gambar untuk film ini, ada salah satu karyawan yang mengungkapkan kekecewaannya dengan situasi sekarang di Keke Busana, yaitu Bu Rus. Beliau menilai jika sekarang Bunda Tika sudah berubah, tidak seperti dulu lagi, dimana yang dulu Bu Rus menilai hubungannya dengan Bunda Tika jauh lebih dekat dan sangat kekelurgaan, dan semua kini terasa sudah berubah, dan membuat Bu Rus memutuskan untuk keluar dari Keke Busana.

Melihat dan mendengar ucapan Bu Rus ini sempat membuat Bunda Tika dirundung perasaan tidak enak, karena Bunda Tika pun sangat ingat, betapa Bunda Tika dengan karyawan-karyawan lamanya sudah sangat intim bahkan sudah dianggap keluarga sendiri, namun keadaan ini benar-benar diluar kuasa Bunda Tika.

Untuk itu, sesuai saran putri keduanya Fahrulia Emeralda, Bunda Tika memanfaatkan moment Idul Fitri kemarin untuk mengunjung Bu Rus, namun pertemuan justru hadir tak disengaja dari keduanya, dan moment itulah mereka akhirnya bisa mencurahkan semua perasaan mereka secara leluasa.

Sungguh, film yang hanya di garap dalam tga bulan ini, mengajarkan kita juga tentang kekuatan cinta. Sebab cinta itulah yang menjadi kunci sukses dari usaha yang dijalankan oleh Bunda Tika, yaitu cinta keluarga, dimana dukungan yang begitu total dari sang suami dan juga anak-anaknya adalah limpahan semangat yang terus mendorongnya untuk berkarya. Dan selain itu, dukungan dan cinta karyawan yang diselimuti oleh rasa kekeluargaan yang kuat mampu membuat Bunda Tika sukses seperti sekarang ini.


Alhasil, bukan hanya bisa mengantar para buah hatinya untuk bersekolah sesuai cita-citanya hingga keluar negeri, tapi Keke Busana kini mampu membuka banyak lapangan pekerjaan pada masyrakat sehingga penggaguran disekiatarnya bisa berkurang.

Film berdursi lebih dari satu jam ini, awalnya diniatkan untuk dipublikasikan di youtube saja, namun jika dilihat lebih seksama lagi, film ini sebenarnya membawa banyak aspirasi positif yang layak dibagikan kepada banyak orang, untuk itu Inspira Pictures yang memayungi film “Dua Kodi Karika” ini akhirnya memutuskan untuk bekerjasama dengan XXI untuk menggelar nobar film ini, supaya diharapkan banyak masyrakat yang terilhami dari kisah dan perjuangan seorang Bunda Tika dalam membawa Keke Busana hingga secemerlang sekarang ini.


 Jadi menurut saya film ini sangat inspiratif, mengajarkan kita bahwa jangan pernah takut untuk berkarya dalam menciptakan sesuatu hal yang baru, dan tentu saja jangan pernah menyerah apapun kesulitan dan kesusahan yang merintangi sebuah cita-cita, sebab jika berhenti, maka segala impian hanya akan menjadi mimpi.

8 komentar:

  1. Waah jadi penasaran Bang jalan ceritanya seperti apa, jadi pengen nonton juga nih.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Sayangnya film ini tidak tayang disemua bioskop Dek, tapi tunggu saja y semoga next kami bisa nonton jg :)

      Hapus
  2. wah banyak banget pelajaran yang bisa diambil dari fil ini ya mas awan.. btw bukunya dijual di toko buku mana aja?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Zata, banyak pelajaran yang bisa diambil dari film ini :)

      Untuk bukunya bisa di Gramedia kali Mba Zata, saya jarang ke toko buku hehehehe

      Hapus
  3. Aku sukaklah baju muslim merek Keke ini. Dulu tiap mau Lebaran, anak-anak kubelikan. Tapi sekarang agak sulit dicari.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Ooh begitu Mba Haya, coba langsung lihat websitenya Keke Busana aja Mba Haya, kali aja disana ada keterangan lokasi store yang menjual Keke Busana dimana aja.

      Hapus
  4. Baru tahu kalau Keke berasal dari "Keukeh", dan ada kisah inspiratif dibaliknya.

    BalasHapus
    Balasan
    1. Iya Mba Rosanna, saya juga kira Keke itu nama orang juga awalnya ternyata bukan :)

      Hapus