
Dan itulah kenyataanya,
kisah kita kandas di ujung musim semi yang suram,
aku hanya mampu terisak memeluk harap
yang tak merestui inginku,
menjadikanmu akhir pencarianku.
Aku nyaris gila,
mengais bayangmu di lorong-lorong sepi,
menyusun ulang kenangan yang runtuh
dari serpih tawa yang dulu kita jaga.
Namun waktu tak pernah berpihak,
ia mengalir tanpa menoleh,
membawa pergi namamu perlahan
dari doa-doa yang kian retak.
Aku belajar merelakan,
meski hati enggan benar-benar usai,
sebab cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang ia hanya singgah…
lalu hilang,
meninggalkan aku yang tetap hidup
dengan luka yang belajar menjadi tenang.
kisah kita kandas di ujung musim semi yang suram,
aku hanya mampu terisak memeluk harap
yang tak merestui inginku,
menjadikanmu akhir pencarianku.
Aku nyaris gila,
mengais bayangmu di lorong-lorong sepi,
menyusun ulang kenangan yang runtuh
dari serpih tawa yang dulu kita jaga.
Namun waktu tak pernah berpihak,
ia mengalir tanpa menoleh,
membawa pergi namamu perlahan
dari doa-doa yang kian retak.
Aku belajar merelakan,
meski hati enggan benar-benar usai,
sebab cinta tak selalu tentang memiliki,
kadang ia hanya singgah…
lalu hilang,
meninggalkan aku yang tetap hidup
dengan luka yang belajar menjadi tenang.


No comments:
Post a Comment