Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, persoalan pangan tidak lagi cukup dipandang sebagai urusan produksi dan ketersediaan bahan makanan. Ada hubungan erat antara kondisi lingkungan, kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya. Kerusakan ekosistem, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dapat mengancam sumber pangan sekaligus memperbesar kerentanan masyarakat terhadap krisis iklim.
Hubungan tersebut menjadi pembahasan utama dalam Online Gathering yang diadakan oleh Eco Blogger Squad (EBS) yang berkolaborasi dengan Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity bertajuk “Dari Gambut ke Meja Makan: Menelusuri Kaitan Karhutla, Biodiversitas, dan Pangan” dengan menghadirkan dua narsumber, yaitu ada Mas Yoga Aprillianno selaku Communications Leads Pantau Gambut dan Mas Ahmad Arif selaku jurnalis Kompas.
Diskusi ini mengajak kita memahami bahwa apa yang terjadi di hutan dan lahan gambut memiliki kaitan dengan keberagaman makanan yang tersedia di meja makan. Salah satu pesan penting yang disoroti adalah bahwa keragaman pangan dapat menjadi bagian dari upaya mitigasi dan adaptasi terhadap krisis iklim.
Dengan menjaga ekosistem, melestarikan keanekaragaman hayati, serta memanfaatkan beragam sumber pangan lokal, Indonesia memiliki peluang lebih besar untuk membangun sistem pangan yang sehat, tangguh, dan berkelanjutan.
Mengenal Gambut dan Risiko Kebakaran Hutan dan Lahan
Dalam pemaparannya, Mas Yoga Aprillianno selaku Communications Leads Pantau Gambut mengangkat perspektif Peatland Is Not Wasteland, yang menegaskan bahwa gambut bukanlah lahan kosong yang tidak berguna. Sebaliknya, gambut merupakan ekosistem penting yang berperan dalam menjaga keseimbangan lingkungan dan mengendalikan perubahan iklim.
![]() |
| Mas Yoga menjelaskan bahwa Indonesia punya ekosistem gambut yang luas hingga berjuta hektare |
Indonesia memiliki sekitar 24,2 juta hektare ekosistem gambut yang tersebar di Sumatera, Kalimantan, dan Papua. Ekosistem ini terbentuk melalui akumulasi bahan organik yang mengalami penguraian secara lambat dalam kondisi tergenang air. Proses tersebut memungkinkan gambut menyimpan cadangan karbon dalam jumlah besar sehingga berperan penting dalam mengurangi pelepasan karbon ke atmosfer.
Gambut juga memiliki kemampuan menyerap dan menyimpan air seperti spons alami. Dalam kondisi yang sehat, gambut mampu menyerap air hingga sekitar 13 kali berat keringnya. Kemampuan ini membantu mengatur tata air, mempertahankan kelembapan lingkungan, dan mengurangi risiko bencana hidrometeorologi.
Sayangnya, fungsi tersebut dapat terganggu ketika gambut dialihfungsikan dan dikeringkan secara berlebihan, misalnya melalui pembangunan kanal untuk membuka lahan perkebunan atau konsesi. Ketika air mengalir keluar dan muka air tanah menurun, lapisan gambut menjadi lebih kering dan kehilangan sebagian kemampuannya menyimpan air.
Dampaknya tidak hanya terasa saat musim kemarau. Gambut yang rusak juga dapat meningkatkan risiko banjir ketika musim hujan. Bahkan, pengeringan lapisan tanah yang mengandung mineral pirit dapat memicu oksidasi dan menghasilkan senyawa asam yang berpotensi menurunkan kualitas air serta mengganggu kehidupan organisme perairan.
Kondisi tersebut menunjukkan bahwa kerusakan gambut dapat menciptakan rangkaian masalah lingkungan yang saling berkaitan, mulai dari penurunan permukaan tanah, gangguan tata air, pencemaran, hingga kebakaran.
![]() |
| El Nino bukan faktor pendukung, bukan penyebab utama karhutla (Foto: Dari File Presentasi Mas Yoga) |
Risiko karhutla semakin meningkat ketika kondisi gambut yang mengering bertemu dengan periode cuaca panas dan kering. Fenomena El NiƱo dapat memperpanjang atau memperparah kondisi kering di sejumlah wilayah, sehingga vegetasi dan lapisan gambut menjadi lebih rentan terbakar. Namun, faktor iklim bukan satu-satunya penyebab. Kerusakan tata air akibat aktivitas manusia turut menentukan tingkat kerentanan suatu kawasan terhadap kebakaran.
Berbeda dengan kebakaran di permukaan tanah biasa, api di lahan gambut dapat menjalar dan membara di bawah permukaan. Akibatnya, kebakaran lebih sulit dideteksi dan dipadamkan, bahkan dapat berlangsung lama meskipun api di permukaan terlihat sudah padam.
Karena itu, pencegahan karhutla perlu dilakukan jauh sebelum musim kemarau tiba. Menjaga kelembapan gambut, memulihkan tata air, mengawasi pembukaan lahan, serta melibatkan masyarakat dalam pengelolaan kawasan menjadi langkah penting untuk melindungi ekosistem ini.
Dampak Karhutla terhadap Ekosistem dan Keanekaragaman Hayati
Ketika membicarakan karhutla, perhatian masyarakat sering kali tertuju pada kabut asap, gangguan pernapasan, dan pelepasan emisi karbon. Padahal, dampak kebakaran jauh lebih luas karena dapat merusak habitat, mengganggu rantai makanan, dan mengancam keberlangsungan berbagai jenis tumbuhan serta satwa.
Gambut yang sehat menyediakan habitat bagi beragam organisme dan mendukung keseimbangan ekosistem di sekitarnya. Ketika kebakaran terjadi, vegetasi dapat musnah, tempat berlindung satwa menghilang, dan sumber makanan menjadi semakin terbatas. Kebakaran berulang juga dapat menghambat pemulihan ekosistem serta mengubah komposisi jenis tumbuhan yang mampu bertahan hidup.
Kerusakan tersebut turut memengaruhi kehidupan masyarakat yang menggantungkan kebutuhan sehari-harinya pada alam. Hutan, rawa, sungai, dan lahan pertanian menyediakan berbagai sumber pangan, mulai dari ikan, buah-buahan, sayuran liar, umbi-umbian, hingga tanaman yang dimanfaatkan sebagai bahan obat dan bumbu.
Apabila ekosistem rusak, akses masyarakat terhadap sumber-sumber pangan tersebut dapat berkurang. Nelayan mungkin menghadapi penurunan kualitas habitat perairan, sementara petani berisiko kehilangan lahan produktif dan menghadapi perubahan kondisi tanah serta ketersediaan air.
Di sinilah hubungan antara pelestarian biodiversitas dan ketahanan pangan menjadi penting. Menjaga alam bukan hanya tentang melindungi satwa atau mempertahankan tutupan hutan, melainkan juga menjaga sumber kehidupan dan penghidupan manusia.
Biodiversitas dan Pangan: Hubungan yang Sering Terlupakan
Biodiversitas atau keanekaragaman hayati mencakup variasi makhluk hidup, mulai dari tumbuhan, hewan, mikroorganisme, hingga ekosistem tempat mereka berkembang. Dalam sistem pangan, biodiversitas menyediakan beragam bahan makanan, sumber genetik tanaman, serta pengetahuan lokal mengenai cara memanfaatkan dan membudidayakannya.
Indonesia memiliki kekayaan sumber pangan yang sangat besar. Berdasarkan data yang dipaparkan dalam materi diskusi Mas Ahmad Arif, jurnalis Kompas, Indonesia memiliki sekitar 77 jenis sumber karbohidrat, 389 jenis buah-buahan, 75 jenis sumber protein, 228 jenis sayuran, serta 110 jenis rempah dan bumbu.
![]() |
| Mas Arif menjelaskan bahwa Indonesia memiliki sumber pangan lokal yang luar biasa |
Kekayaan tersebut memperlihatkan bahwa masyarakat Indonesia sebenarnya memiliki banyak pilihan untuk memenuhi kebutuhan pangan. Namun, dalam praktiknya, konsumsi masyarakat semakin didominasi oleh sejumlah komoditas utama, terutama beras dan gandum.
Ketergantungan pada sedikit jenis bahan pangan dapat menjadi persoalan ketika terjadi gangguan produksi, perubahan iklim, atau gejolak harga di pasar global. Jika suatu komoditas mengalami gagal panen akibat kekeringan, banjir, atau serangan hama, masyarakat yang sangat bergantung pada komoditas tersebut akan lebih rentan mengalami gangguan pasokan.
Sebaliknya, sistem pangan yang mengandalkan beragam tanaman dan sumber pangan memiliki peluang lebih besar untuk beradaptasi. Ketika satu jenis tanaman tidak tumbuh optimal, sumber pangan lainnya dapat membantu memenuhi kebutuhan masyarakat, selama jenis-jenis tersebut sesuai dengan kondisi lingkungan dan dikelola secara berkelanjutan.
Hubungan ini menunjukkan bahwa biodiversitas bukan sekadar kekayaan alam, tetapi juga modal penting untuk membangun ketahanan pangan. Semakin beragam sumber pangan yang dilestarikan dan dimanfaatkan, semakin besar pula pilihan masyarakat dalam menghadapi ketidakpastian iklim.
Mengenal Biodiversitas Pangan dan Pentingnya Kedaulatan Pangan
Biodiversitas pangan merujuk pada keragaman jenis tumbuhan, hewan, dan organisme lain yang dimanfaatkan sebagai sumber makanan. Keragaman ini tidak hanya mencakup bahan pangan yang sudah populer di pasaran, tetapi juga tanaman lokal, pangan liar yang aman dikonsumsi, serta varietas tradisional yang diwariskan dari generasi ke generasi.
Sayangnya, perubahan pola konsumsi dapat membuat sebagian pangan lokal semakin jarang dimanfaatkan. Masyarakat yang dahulu mengonsumsi beragam umbi, sagu, jagung, sorgum, dan hasil alam setempat kini dapat semakin bergantung pada beras, mi instan, serta makanan olahan.
![]() |
| Indonesia kaya akan pangan lokal selain nasi |
Mas Ahmad Arif menyoroti bahwa persoalan pangan tidak cukup diukur dari jumlah produksi atau pencapaian swasembada suatu komoditas. Ketersediaan pangan juga perlu dilihat dari kualitas gizi, keterjangkauan, keberlanjutan lingkungan, dan kemampuan masyarakat menentukan sumber makanan yang sesuai dengan kebutuhan serta budayanya.
Ketika masyarakat meninggalkan pangan lokal dan bergantung pada bahan pangan dari luar daerah, ketahanan mereka terhadap gangguan distribusi dan kenaikan harga dapat melemah. Pada saat yang sama, pengetahuan mengenai benih, musim tanam, pengolahan, dan pemanfaatan tanaman lokal berisiko hilang.
Karena itu, keragaman pangan berkaitan erat dengan kedaulatan pangan, yaitu kemampuan masyarakat untuk menentukan dan mengelola sistem pangannya dengan mempertimbangkan kondisi ekologis, sosial, budaya, serta kebutuhan setempat.
![]() |
| Masyarakat di Desa Boti bisa penuhi hampir seluruh kebutuhan pangan secara mandiri |
Salah satu contoh yang menarik adalah masyarakat adat Boti di Kabupaten Timor Tengah Selatan, Nusa Tenggara Timur. Di wilayah dengan kondisi iklim kering dan tanah berkapur, mereka mengembangkan praktik menanam beragam tanaman dan mengonsumsi hasil yang ditanam sendiri. Sistem wanatani atau agroforestri, pemeliharaan benih lokal, peternakan, serta pemanfaatan pangan liar yang aman dikonsumsi menjadi bagian dari strategi memenuhi kebutuhan hidup.
Praktik tersebut memperlihatkan bahwa ketahanan pangan tidak selalu harus dibangun melalui penyeragaman komoditas. Pengetahuan lokal dan keberagaman tanaman justru dapat menjadi kekuatan untuk menyesuaikan diri dengan kondisi lingkungan yang menantang.
Eksplorasi Tumbuhan Lokal: Ubi Jalar sebagai Alternatif Pangan
Salah satu cara sederhana untuk mendukung biodiversitas pangan adalah mengenali kembali tumbuhan lokal yang dapat menjadi sumber makanan sehari-hari. Ubi jalar (Ipomoea batatas) merupakan salah satu contoh tanaman yang berpotensi mendukung diversifikasi pangan sekaligus menyediakan pilihan sumber karbohidrat selain nasi.
![]() |
| Ubi jalar menjadi pangan lokal selain nasi |
Ubi jalar banyak dibudidayakan di Indonesia dan memiliki berbagai varietas dengan warna daging umbi putih, kuning atau oranye, hingga ungu. Tanaman ini relatif mudah ditanam di kebun, lahan pertanian, maupun pekarangan rumah, selama kondisi tanah dan ketersediaan air mendukung pertumbuhannya.
Dari sisi gizi, ubi jalar mengandung karbohidrat sebagai sumber energi, serat, vitamin, dan mineral. Ubi jalar berdaging jingga mengandung beta-karoten, yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A, sedangkan varietas berwarna ungu mengandung antosianin, yaitu pigmen yang memiliki aktivitas antioksidan.
Kandungan gizi tersebut menjadikan ubi jalar sebagai salah satu pilihan untuk memperkaya variasi menu keluarga. Meski demikian, kebutuhan gizi tetap perlu dipenuhi melalui pola makan seimbang yang mencakup sumber protein, sayuran, buah-buahan, dan bahan pangan lainnya.
Ubi jalar juga mudah diolah menjadi beragam hidangan. Selain direbus, dikukus, atau dipanggang, umbi ini dapat dibuat menjadi keripik, perkedel, kolak, kue, hingga tepung. Fleksibilitas pengolahan tersebut membuat ubi jalar dapat digunakan dalam menu tradisional maupun kreasi makanan modern, sebagai contohnya:
- Ubi ungu mengandung karbohidrat, serat pangan, vitamin C, dan mineral. Warna ungunya berasal dari antosianin, yaitu pigmen alami yang memiliki aktivitas antioksidan. Senyawa ini membantu melindungi sel dari kerusakan akibat radikal bebas.
- Ubi kuning atau oranye ini kaya beta-karoten, terutama yang berdaging jingga. Beta-karoten merupakan provitamin A yang dapat diubah tubuh menjadi vitamin A untuk membantu menjaga kesehatan mata, kulit, dan sistem kekebalan tubuh. Ubi ini juga mengandung karbohidrat, serat, serta vitamin C.
- Ubi putih mengandung pati sebagai sumber energi, serta serat, vitamin C, dan mineral seperti kalium. Rasanya cenderung ringan sehingga cocok diolah menjadi ubi kukus, ubi rebus, maupun tepung untuk bahan berbagai makanan.
Budidaya ubi jalar pun relatif mudah dipelajari. Tanaman ini umumnya diperbanyak melalui stek batang dan membutuhkan tanah gembur dengan drainase yang baik. Perawatan meliputi penyiraman sesuai kebutuhan, penyiangan gulma, serta pemberian pupuk organik secukupnya.
Dalam kondisi yang sesuai, ubi jalar biasanya dapat dipanen sekitar tiga hingga lima bulan setelah ditanam, bergantung pada varietas dan lingkungan tumbuhnya. Waktu panen yang relatif singkat dapat menjadi keuntungan bagi petani dalam mengatur ketersediaan pangan, meskipun produktivitas tetap dipengaruhi oleh cuaca, kondisi tanah, dan gangguan hama.
Lebih dari sekadar bahan makanan, ubi jalar juga memiliki nilai budaya. Di sejumlah komunitas masyarakat adat Papua, tanaman ini menjadi bagian penting dari kehidupan sehari-hari dan tradisi memasak, termasuk dalam kegiatan bakar batu. Pengetahuan tentang pemilihan bibit, waktu tanam, dan pengolahan diwariskan melalui keluarga serta komunitas.
Melestarikan ubi jalar berarti turut menjaga pengetahuan dan tradisi pangan yang menyertainya. Dukungan terhadap petani lokal, pemeliharaan varietas, pertukaran bibit, dan pengembangan produk olahan dapat membantu memperkuat keberadaan tanaman ini dalam sistem pangan Indonesia.
Biodiversitas Pangan di Tengah Perubahan Iklim
Perubahan iklim menghadirkan tantangan besar bagi produksi pangan. Kenaikan suhu, perubahan pola hujan, kekeringan berkepanjangan, dan kejadian cuaca ekstrem dapat memengaruhi pertumbuhan tanaman, produktivitas pertanian, serta ketersediaan air.
Dalam situasi tersebut, ketergantungan pada satu atau dua komoditas pangan menjadi semakin berisiko. Tanaman yang dibudidayakan secara luas dapat mengalami gangguan serupa ketika menghadapi tekanan iklim tertentu, terutama jika varietas yang digunakan memiliki karakteristik yang relatif seragam.
Diversifikasi pangan menawarkan pendekatan yang berbeda. Dengan mengembangkan tanaman sesuai karakteristik setiap wilayah, masyarakat dapat memanfaatkan sumber daya lokal sekaligus mengurangi ketergantungan pada komoditas tertentu.
![]() |
| Diversifikasi pangan penting dilakukan agar tidak tergantung pada satu jenis pangan saja |
Papua dan Maluku, misalnya, memiliki tradisi konsumsi sagu. Sementara itu, jagung dan sorgum dapat menjadi bagian penting dari sistem pangan di sejumlah wilayah Nusa Tenggara, sedangkan berbagai jenis umbi-umbian dapat dimanfaatkan di daerah yang sesuai. Ubi jalar juga dapat menjadi alternatif yang berharga, terutama ketika didukung oleh pengetahuan budidaya dan pengelolaan pascapanen yang tepat.
Namun, diversifikasi tidak berarti mengganti satu komoditas utama dengan komoditas lain secara seragam. Setiap tanaman memiliki kebutuhan air, tanah, dan iklim yang berbeda. Pengembangan pangan lokal perlu disesuaikan dengan kondisi ekoregion, ketersediaan sumber daya, preferensi masyarakat, serta daya dukung lingkungan.
Selain itu, upaya memperkuat biodiversitas pangan harus berjalan seiring dengan perlindungan ekosistem. Mendorong produksi pangan melalui pembukaan hutan atau pengeringan lahan gambut justru dapat memperburuk krisis iklim dan merusak sumber kehidupan masyarakat dalam jangka panjang.
Karena itu, menjaga gambut, mencegah karhutla, melindungi habitat, dan melestarikan tanaman lokal merupakan bagian dari agenda yang saling terhubung. Ekosistem yang sehat mendukung keberlanjutan sumber daya alam, sementara sistem pangan yang beragam membantu masyarakat menghadapi perubahan kondisi lingkungan.
Dari Gambut ke Meja Makan: Butuh Kerja Sama Berbagai Pihak
Diskusi yang digagas Eco Blogger Squad bersama Pantau Gambut dan Nusantara Food Biodiversity mengingatkan kita bahwa persoalan lingkungan dan pangan tidak dapat dipisahkan. Kebakaran gambut bukan hanya persoalan asap dan emisi, tetapi juga ancaman terhadap biodiversitas, sumber penghidupan, dan keberlanjutan sistem pangan masyarakat.
Menjawab tantangan tersebut membutuhkan kerja bersama berbagai pihak. Pemerintah dan pengelola lahan perlu memperkuat perlindungan serta restorasi gambut, termasuk menjaga tata air dan mencegah pengeringan berlebihan. Masyarakat dapat berperan melalui pencegahan kebakaran, pelestarian lingkungan, serta pemanfaatan sumber daya alam secara bijaksana.
![]() |
| Karhutla harus kita cegah, karena berdampaknya luas, termasuk mengancam sumber pangan kita |
Di sisi lain, kita sebagai konsumen juga memiliki peran penting dalam menjaga keberagaman pangan. Mengenal kembali bahan pangan lokal, mencoba variasi menu, membeli hasil pertanian masyarakat setempat, dan mengurangi ketergantungan pada satu jenis komoditas merupakan langkah sederhana yang dapat dilakukan sehari-hari.
Pendidikan pangan juga perlu diperkuat agar generasi muda mengenal kekayaan biodiversitas Indonesia beserta nilai gizi, manfaat ekologis, dan pengetahuan budaya yang menyertainya. Dengan begitu, pangan lokal tidak hanya dipandang sebagai peninggalan masa lalu, tetapi juga sebagai bagian dari solusi untuk menghadapi tantangan masa depan.
Pada akhirnya, membangun ketahanan pangan tidak cukup hanya dengan memastikan makanan tersedia dalam jumlah besar. Kita juga perlu menjaga dari mana makanan berasal, bagaimana makanan tersebut diproduksi, serta apakah prosesnya tetap melindungi alam dan mendukung kesejahteraan masyarakat.
![]() |
| Menjaga alam berarti menjaga pangan kita berkelanjutan |
Dari gambut yang menyimpan karbon hingga ubi jalar yang tumbuh di kebun, semuanya mengingatkan kita bahwa keberlanjutan pangan berawal dari hubungan yang sehat antara manusia dan alam. Menjaga biodiversitas berarti menjaga pilihan pangan, sedangkan merawat keragaman pangan berarti memperkuat ketahanan dan kedaulatan pangan Indonesia di tengah krisis iklim.














No comments:
Post a Comment