Di Antara Semesta dan Namamu



Entah pada musim yang keberapa,
takdir menuliskan namamu
di sela-sela sunyi yang selama ini
kupanggil rumah.

Tatapanmu adalah jyoti,
cahaya yang tak sekadar menerangi,
melainkan menghidupkan
bagian-bagian jiwaku
yang lama tertidur.

Kepadamu,
hatiku belajar menjadi ananta,
tak berbatas,
seperti langit yang tak pernah selesai
memeluk cakrawala.

Dalam diam,
aku mengucap doa-doa
yang menjelma smara,
cinta yang lembut
namun mampu menggetarkan semesta.

Jika dunia adalah perjalanan,
maka engkau adalah mārga, 
jalan yang membuat setiap langkah
tak lagi terasa kehilangan arah.

Dan bila waktu akhirnya
menghapus jejak-jejak manusia,
izinkan rasa ini tetap menjadi satya,
setia pada satu nama,
meski musim berganti
dan bintang-bintang memilih redup.

Sebab mencintaimu
bukan sekadar ingin memiliki,
melainkan menjadi śānti,
kedamaian yang tumbuh
saat namamu kusebut
dalam setiap denyut yang tak pernah
berhenti berharap.

Jika kelak semesta bertanya
apa arti cinta bagiku,
akan kujawab pelan...

"Namamu adalah mantra,
dan hatiku selamanya menjadi 
tempat ia bergema."


No comments:

Post a Comment