Yang Tertinggal dari Rindu

Gambar by Franz (Pixabay)


Riuh rindu memaki anganku, 
yang mendamba hadirmu, 
seolah waktu belum rela 
menutup pintu yang pernah kita buka bersama.

Sejak kau memilih menjadi jauh,
hari-hari belajar mengeja sepi. 
Jam dinding melaju cepat, 
namun tak pernah benar-benar membawa pergi segala kenangan.

Ada yang terus hidup
meski tak lagi memiliki nama:
barangkali itu doa,
barangkali pula cinta
yang enggan mengaku telah usai.

Aku pernah mencoba melupakanmu
dengan menyibukkan mata pada keramaian,
tetapi setiap wajah
selalu gagal menjadi rumah.

Malam-malam menggantung bulan
seperti surat yang tak pernah selesai dibaca. 
Aku mengumpulkan cahaya yang jatuh di jendela, 
berharap satu di antaranya adalah kabar tentangmu.

Andai rindu memiliki tepi, 
barangkali telah kutambatkan perahu hati 
agar tak terus hanyut ke muara 
yang tak lagi mengenal namaku.

Namun rupanya rindu
adalah laut yang memelihara ombaknya sendiri,
ia datang tanpa dipanggil, 
lalu menetap sebagai gema yang tak menemukan akhir.

Maka biarlah aku belajar
mencintaimu sebagaimana langit memeluk senja,
tanpa menggenggam,
tanpa meminta untuk tinggal,
namun tetap menghadiahkan warna indah 
sebelum akhirnya merelakan gelap.

Dan jika suatu hari
namamu benar-benar luruh dari ingatan dunia,
Ingatlah… masih ada satu bait puisi yang diam-diam menyebutmu, 
ada seseorang yang mencintaimu sedalam diam, 
dan coba melepasmu setulus doa.

No comments:

Post a Comment