![]() |
| Photo by Mokaza (Pixabay) |
Rindu telah menjelma kemarau,
panjang dan sunyi di halaman dada,
mengeringkan sungai-sungai kenangan
hingga yang tersisa hanya jejak langkahmu
di tanah hati yang retak oleh penantian.
Aku masih menunggumu
di bawah langit yang tak kunjung hujan,
menghitung senja satu demi satu,
seperti menghitung doa
yang tak pernah selesai kusebutkan
dalam diam.
Namamu tumbuh sebagai ilalang,
liar di antara reruntuhan waktu,
tak bisa kucabut,
tak sanggup pula kubiarkan mati.
Ia terus bergoyang
setiap kali angin membawa
aroma masa lalu ke jendela ingatan.
Betapa kemarau ini begitu pandai
menyembunyikan luka di balik cahaya.
Siang tampak baik-baik saja,
namun malam selalu tahu
bagaimana sepi menggerus dada
perlahan-lahan.
Aku ingin melupakanmu,
tetapi bagaimana mungkin
aku menghapus hujan
dari kenangan tentang musim?
Bagaimana mungkin laut
melupakan asin,
atau langit melupakan
warna senja yang pernah dipeluknya?
Maka biarlah rindu ini
menjadi kemarau yang panjang.
Biarlah ia mengeringkan segala yang fana,
hingga kelak yang tersisa
hanyalah satu mata air
yang tak mampu dibunuh waktu: namamu.
Namamu yang diam-diam masih kusebut
di antara denyut dan rintihan doa,
di antara malam dan pagi,
di antara ingin melupakan
dan berharap kau kembali.
Sebab, rindu ini bukan tentang seseorang yang jauh,
melainkan tentang hati
yang tetap menyediakan rumah
bagi seseorang
yang mungkin lupa jalan pulang.



No comments:
Post a Comment