Setelah Sekian Lama, Aku Memilih Merdeka

Photo by Kranich17 (Pixabay)


Ada sesuatu
yang bertahun-tahun
kusimpan darimu.

Bukan rahasia besar,
bukan pula luka
yang harus disembunyikan.

Hanya sebuah nama
yang terlalu sering
diam-diam kusebut
ketika malam menjadi panjang.

Namamu, ya namamu...

Aku tidak tahu
sejak kapan perasaan ini
tumbuh begitu dalam.

Mungkin sejak percakapan kecil
yang kau anggap biasa,
sementara aku membawanya pulang
dan menyimpannya
seperti seseorang menyimpan
surat paling berharga.

Mungkin sejak senyummu
diam-diam menjadi alasan
mengapa hari-hariku
terasa sedikit lebih ringan.

Atau mungkin
sejak aku mulai menyadari
bahwa di antara begitu banyak manusia,
ada satu orang
yang kehadirannya
selalu kucari.

Dan orang itu adalah kamu.

Aku pernah mencoba melupakanmu.
Sungguh!

Aku menjauh dari kenangan,
menyibukkan diri dengan banyak hal,
meyakinkan hati bahwa
barangkali ini hanya kekaguman
yang akan selesai bersama waktu.

Tetapi waktu ternyata
tidak pernah benar-benar menghapusmu.

Ia justru mengajariku satu hal:
bahwa ada perasaan
yang semakin lama disembunyikan,
semakin pandai ia menemukan jalan
untuk tinggal.

Maka malam ini
aku tidak ingin lagi menjadi pengecut
yang hanya berani mencintaimu
dalam diam.

Aku ingin merdeka.
Merdeka dari ketakutan
atas kemungkinan ditolak.

Merdeka dari kegelisahan
tentang apa yang akan terjadi
setelah kalimat ini selesai.

Merdeka dari kebiasaan
menyembunyikan perasaan
di balik senyum
dan percakapan yang pura-pura biasa.

Jadi, dengarkan aku...

Aku mencintaimu.

Bukan cinta yang datang
karena kesepian.

Bukan pula cinta
yang meminta kau menjadi sempurna.

Aku mencintaimu
dengan segala kemungkinan
yang mungkin tidak pernah
menjadi milikku.

Dan jika ternyata
hatimu tidak menuju kepadaku,
aku akan belajar menerimanya.

Mungkin aku akan terluka.

Mungkin akan ada malam
ketika namamu masih membuat dadaku
terasa sesak.

Tetapi setidaknya,
aku tidak akan lagi bertanya-tanya
seumur hidup:

“Bagaimana jika waktu itu
aku mengatakannya?”


Sebab hari ini
aku sudah mengatakan semuanya.
Kepadamu...

Bahwa selama ini
di balik begitu banyak kata
yang tak pernah selesai,
ada satu kalimat
yang selalu ingin menemukan jalan pulang:
Aku mencintaimu.

Dan jika cinta ini
memang tidak ditakdirkan
untuk menjadi milik kita,
biarlah ia tetap menjadi
bagian paling jujur
dari perjalanan hidupku.

Sebab untuk pertama kalinya,
aku mengerti arti kemerdekaan:

bukan tentang memenangkan seseorang,
bukan tentang memiliki
apa yang kita inginkan,

melainkan tentang keberanian
membuka pintu hati
dan berkata dengan suara sendiri:

“Inilah perasaanku.
Aku tidak lagi menyembunyikannya.
Selebihnya, biarlah semesta
yang menentukan ke mana
cinta ini akan berlabuh.”

No comments:

Post a Comment