Transmate Journey 2022 Banda Aceh


Sudah lama sebenarnya saya ingin berkunjung ke Aceh, kota yang dijuluki Serambi Mekkah itu, namun selama ini situasi dan kondisinya tidak selalu memungkinkan. Ada saja halangan yang membuat keinginan itu tidak bisa terlaksana, dan terpaksa tertunda terus.

Namun setelah sekian purnama memendam harapan tersebut, saya akhirnya bisa juga berkunjung ke Aceh, tapi kali ini dalam rangkaian perjalanan Transmate Journey 2022 yang merupakan program tahunan dari Transmate Indonesia.

Berbeda dengan acara Transmate Journey tahun 2021 kemarin ke Surabaya, satu kelompok hanya berjumlah dua orang, namun pada acara Transmate Journey tahun 2022 ini setiap kelompok berjumlah empat orang, saya kebetulan satu kelompok bersama Ipul, Ovie, dan Mba Utie.

Untuk acara Transmate Journey Aceh tahun 2022 ini, kami berkesempatan melakukan perjalanan dan juga liputan selama empat hari yaitu mulai tanggal 6 – 9 Juni 2022 dengan banyak cerita menarik yang mengiringi perjalanan Transmate Journey 2022 di Banda Aceh ini.

Melalui acara Transmate Journey 2022 ini, saya bukan hanya bisa melihat seperti apa keindahan Banda Aceh dari dekat, namun acara ini juga memungkinkan saya untuk meliput secara langsung mengenai infrastruktur konektivitas, distribusi logistik, dan juga destinasi wisata yang ada di Banda Aceh dan sekitarnya.

Dan benar saja, dari informasi yang kami dapat sebelumnya, bahwa Banda Aceh ini merupakan salah satu kota yang memiliki sarana dan prasarana transportasi yang cukup baik dan maju di Indonesia, ternyata pernyataan tersebut tidaklah keliru, sebab dari yang saya lihat, Banda Aceh memiliki beragam fasilitas transportasi yang dapat menunjang kelancaran berbagai kegiatan masyarakat di sana.

Infrasturktur transportasi dan konektivitas di Banda Aceh ini bisa dibilang serba ada, mulai dari darat, udara serta laut, sehingga sangat membantu dalam memperlancar mobilitas masyarakat dan juga distribusi logistik baik secara regional maupun global.


Mengitari Banda Aceh Dengan Trans Koetaraja

Bagi saya, kemudahan transportasi di sebuah daerah itu sangat penting, terlebih tersedianya transportasi umum yang dapat mendukung kemudahan aktivitas masyarakat setempat. Makanya, kemarin saat berkunjung ke Banda Aceh, saya senang banget, karena Banda Aceh termasuk salah satu kota yang memiliki transportasi umum yang memungkin kita bisa mengitari Banda Aceh dengan mudah.

Ya, Banda Aceh memiliki transportasi umum yang bernama Trans Koetaradja (Trans Kutaraja) yang merupakan transportasi Bus Rapid Transit (BRT) dan sudah beroperasi sejak tahun 2016. Kehadiran Trans Koetaradja ini telah menjadi transportasi massal andalan bagi warga di Kota Banda Aceh dan sekitarnya.

Kehadiran Trans Koetaradja memudahkan mobilitas masyarakat Banda Aceh

Dari awal kemunculannya, Trans Koetaradja ini dapat digunakan oleh masyarakat secara gratis. Meskipun begitu, pelayanan dan kondisi busnya cukup bagus. Selain dilengkapi AC (Air Conditioner), bus ini juga sudah dilengkapi Closed Circuit Televisi (CCTV) untuk meningkatkan keamanan dan kenyamanan penumpang.

Dan hingga saat ini, Trans Koetaradja ini melayani berbagai rute dengan menghadirkan 6 koridor (PP) sebagai berikut:
  • Koridor 1 : Pusat Kota - Darussalam
  • Koridor 2A : Pusat Kota - Blang Bintang (Bandara Sultan Iskandar muda)
  • Koridor 2B : Pusat Kota - Pelabuhan Ulee Lheue
  • Koridor 3A : Pusat Kota - Setui - Mata Ie
  • Koridor 3B : Pusat Kota - Lhoong Raya - Mata Ie
  • Koridor 5 : Pusat Kota - Ulka - Blang Bintang (Bandara Sultan Iskandar muda)
Kehadiran Trans Koetaradja dengan berbagai rute ini sangat memudahkan kita bepergian, termasuk jika kita dari Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh ingin ke pusat kota Banda Aceh, maka kita bisa menaiki Bus Trans Koetaradja koridor 2A dan koridor 5, begitupun sebaliknya.

Menariknya, Trans Koetaradja ini selain sebagai sarana transportasi massal, beberapa haltenya diletakkan berdekatan dengan beberapa destinasi wisata di Kota Banda Aceh, seperti Museum Aceh, Museum Tsunami, dan Masjid Raya Baiturrahman, sehingga sangat memudahkan bila kita ingin bertandang ke tempat-tempat tersebut.

Dan untuk Trans Koetaradja ini dioperasikan setiap hari, yaitu mulai pukul 06.30 WIB - 19.00 WIB (Kecuali koridor 1 sampai pukul 20.00 WIB). Dengan adanya Trans Koetaradja ini, tentunya sangat membantu dan memudahkan mobilitas masyarakat menuju ke berbagai lokasi dengan cepat, aman dan nyaman.


Menuju Medan dari Terminal Bus Tipe A Banda Aceh

Selain memiliki Trans Koetaradja yang bisa melayani kemudahan mobilitas masyarakat dalam kota, ternyata Aceh juga memberikan kemudahan bagi masyarakat yang ingin bepergian antar kota menggunakan bus dengan menyediakan Terminal Tipe A.

Terminal Tipe A ini memiliki banyak fungsi, yaitu melayani kendaraan penumpang umum untuk angkutan antar kota antar propinsi (AKAP), dan angkutan lintas batas antar negara, angkutan antar kota dalam propinsi (AKDP), angkutan kota (AK), serta angkutan pedesaan (ADES).

Terminal Tipe A Banda Aceh ini sangat ramai pada malam hari 

Namun khusus untuk AKAP atau bus antar kota di terminal ini, biasanya melakukan perjalanan pada malam hari, bus-bus tersebut akan berangkat dari terminal ini mulai sekitar pukul 8 - 10 malam. Dan mayoritas bus antar kota yang berangkat dari terminal ini bertujuan ke kota Medan – Sumatera Utara.

Hal itu juga yang disampaikan oleh Bapak Heriyanto (Koordinator Satuan Pelayanan Terminal Batoh) bahwa terminal ini sangat ramai pada malam hari, terutama pada malam Jumat menuju weekend, banyak masyarakat yang pergi berlibur ke kota Medan. Biasanya mereka berangkat malam dan tiba di Medan pagi harinya.

Makanya tidak heran bila pada malam hari Terminal Tipe A Banda Aceh ini sangat ramai dengan masyarakat yang hendak pergi ke luar kota. Dan uniknya, bus-bus AKAP ini memiliki penampilan yang meriah karena didandani dengan aneka lampu warna-warni sehingga membuatnya lebih meriah.

Selain keunikan bus warna-warni tersebut, yang menarik juga dari terminal Tipe A Banda Aceh ini adalah memiliki lahan yang tampak luas, bersih dan nyaman. Bus-bus yang akan berangkat ke luar kota pun tertata sangat rapi di area halaman terminal.

Sedangkan di sisi yang lain, tampak bangunan terminal yang luas, diisi oleh banyak kios makanan dan juga loket-loket tiket bus yang berjejer rapi. Jadi untuk masyarakat yang ingin membeli tiket bus antar kota, maka selain secara online, bisa juga membeli langsung tiket bus pada loket-loket yang ada di terminal ini.


Menjangkau Daerah Terpencil Dengan Pesawat Perintis

Kita semua tahu, bahwa Indonesia merupakan salah satu negara kepulauan terbesar di dunia, maka tidak heran bila masih ada daerah-daerah di Indonesia yang sampai saat ini sulit untuk dijangkau, baik lewat darat maupun lewat laut karena alasan kondisi geografis yang tidak memungkinkan.

Maka untuk menjangkau daerah-daerah terpencil tersebut biasanya menggunakan pesawat perintis. Ya, pesawat perintis dapat diandalkan untuk melayani rute penerbangan yang menghubungkan daerah terpencil dan tertinggal atau daerah yang belum terlayani oleh moda transportasi lain.

Hal itu jugalah yang kemarin saya temukan saat berkunjung ke Bandara Sultan Iskandar Muda di Banda Aceh, saya berkesempatan melihat pesawat perintis Susi Air dari dekat yang melayani penerbangan lokal, menghubungkan Banda Aceh dengan daerah-daerah di sekitarnya.

Pesawat perintis ini memudahkan kita untuk menjangkau daerah-daerah terpencil

Jenis pesawat komersial yang satu ini biasanya memang memilki ukuran yang kecil dengan berat kurang dari 6 ton, karena bobot dan ukuran badannya yang kecil tersebut, maka pesawat jenis ini dapat mendarat di landasan pendek dan landasan tanah.

Biasanya, pesawat perintis Susi Air yang berada di Bandara Sultan Iskandar Muda ini melayani penerbangan dari dan menuju ke berbagai wilayah yang ada di Aceh dari hari Senin - Jumat dengan rute yang berbeda-beda setiap harinya:
  • Senin: Banda Aceh - Sinabung (PP)
  • Selasa: Banda Aceh - Kutacane (PP)
  • Rabu: Banda Aceh - Gayo Lues (PP)
  • Rabu: Banda Aceh - Takengon (PP)
  • Kamis: Banda Aceh - Sinabung (PP)
  • Jumat: Banda Aceh - Kutacane (PP)
Dengan adanya layanan pesawat perintis seperti di Bandara Sultan Iskandar Muda Banda Aceh ini, tentu sangat memudahkan masyarakat saat bepergian, mereka jadi bisa mencapai tempat yang sulit dilalui melalui jalur darat atau laut dengan semakin mudah dan cepat.

Dan untuk pesawat perintis Susi Air ini berkapasitas ada 12 tempat duduk. Harga tiketnya bervariasi, tergantung rute. Harga rata-rata Rp400.000 untuk sekali penerbangan. Dan tiket pesawat perintis Susi Air ini bisa dibeli di Kantor Susi Air di Kota Banda Aceh atau bisa hubungi nomor 0811-6138-333 atau call center 0811-211-3090 ya.


Berkunjung ke Sabang dari Pelabuhan Ulee Lheue

Dari kecil, nama Sabang sudah terekam kuat dalam ingatan saya, selain karena sering melantunkan lagu nasional Dari Sabang Sampai Merauke karya R. Suharjo, namun nama Sabang juga menjadi bagian dari pelajaran saat sekolah dulu, sebagai wilayah paling baratnya Indonesia.

Sabab itu, saya selalu berangan ingin bisa ke Sabang ini, namun selama ini hanya dipendam dalam hati. Dan Alhamdulillah, akhirnya beberapa waktu yang lalu saya bisa menginjakkan kaki di Sabang, sungguh pengalaman yang tak terlupakan.

Untuk menuju Sabang ini ternyata cukup mudah, karena kita bisa menumpangi kapal dari Pelabuhan Ulee Lheue Banda Aceh menuju Pelabuhan Balohan Sabang. Pelabuhan Ulee Lheue ini menjadi satu-satunya sarana angkutan laut yang melayani penumpang dan barang dari Banda Aceh menuju Sabang.

Pelabuhan Ulee Lheue memiliki desain yang modern dan elegant

Dan pada saat awal melihat pelabuhan Ulee Lheue ini, saya langsung merasa kagum, karena ternyata pelabuhan ini memiliki penampilan yang sangat keren dengan design yang elegan dan modern. Selain itu, tampak bersih dan terawat dengan baik.

Selain itu, pelabuhan Ulee Lheue ini juga cukup luas, berdiri di atas lahan seluas kurang lebih 8 hektar dan dilengkapi berbagai fasilitas terminal penumpang sebagai bangunan utama, dermaga kapal cepat, dermaga kapal lambat, kolam pelabuhan, lahan parkir, halte Trans Kuoetaradja dan lain sebagainya.

Untuk menyeberang ke Pelabuhan Balohan Sabang dari Pelabuhan Ulee Lheue (dan sebaliknya), ada pilihan dua jenis kapal, yaitu feri Ro Ro (Roll on – Roll off) dan kapal cepat yang bisa kita pilih sesuai keinginan dan kebutuhan kita. Kedua jenis kapal ini menawarkan jadwal berangkat, harga tiket hingga durasi perjalanan yang tentu saja berbeda, dimana:
  • Kapal feri Ro Ro membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 2 jam dengan harga tiket Rp28.800 - Rp58.000 tergantung kelas yang dipilih (Kelas Ekonomi atau Executive).
  • Kapal Cepat membutuhkan waktu tempuh kurang lebih 45 menit dengan harga tiket Rp60.000 - Rp100.000 tergantung kelas yang dipilih (Kelas Ekonomi atau VIP).
Nah, saya pribadi kemarin memilih menggunakan kapal cepat dengan memilih kelas VIP dengan harga tiket Rp100.000 (seratus ribu rupiah) supaya bisa cepat sampai di Sabang. Kapal cepat yang saya tumpangi ini sangat bersih dan nyaman, sehingga perjalanan saya terasa semakin menyenangkan.

Namun sebelum kapal diberangkatkan, petugas kapal menyalakan televisi dan memutarkan informasi terkait tatacara penyelamatan diri, mulai dari menjelaskan prosedur keselamatan, cara menggunakan pelampung, hingga letak pintu darurat yang harus digunakan untuk menyelamatkan diri bila terjadi kecelakaan kapal.

Dan untuk menjaga keamanan dan keselamatan pelayaran kapal ini, maka kapal ini pun sudah dilengkapi dengan berbagai informasi, peralatan keselamatan seperti Life jackets (pelampung), Lifebuoys (ban pelampung), Lifeboat (sekoci), Red Flare, Parachute Signal, Smoke Signal, Epirb (alat yang bisa memancarkan sinyal saat kapal dalam bahaya, APAR (Alat pemadam api), dan lain sebagainya, serta ada juga peralatan kesehatan P3K.

Naik kapal cepat hanya 45 menit saja menuju Sabang

Setelah menempuh perjalanan sekitar 45 menit, akhirnya saya pun tiba di pelabuhan Balohan Sabang. Pelabuhan ini pun ternyata memiliki desain yang bagus dan modern, bahkan pelabuhan ini memiliki bangunan utama yang sangat luas.

Dari perjalanan ini, saya jadi bisa merasakan bahwa pelabuhan punya peran penting sebagai salah satu prasarana transportasi yang menjadi titik simpul yang menghubungkan antar daerah sehingga perjalanan masyarakat dan juga logistik semakin cepat dan mudah.

Dan setelah sampai di Sabang, kami pun langsung berkunjung ke Tugu Nol Kilometer Indonesia karena tidak "sah" jika ke Sabang belum ke tugu hits ini. Dan jika teman-teman ingin ke Sabang setelah dari pelabuhan Balohan sebaiknya menyewa motor atau mobil ya, karena di Sabang tidak ada transportasi umum yang bisa sampai ke Tugu Nol Kilometer.

Selain itu, kami juga sempat menikmati pemandangan pantai dengan air jernih dan berpasir putih di Pantai Iboih. Selain itu, kami juga sempat menikmati kepala muda dan rujak sembari menikmati sunset. Bahkan kami juga sempat berkunjung ke Benteng Anoi Itam yang merupakan benteng peninggalan Jepang ketika perang dunia ke II, dan beberapa destinasi wisata lainnya, serta tak ketinggalan mengunjungi pabrik pembuatan Bakpia Sabang yang super nikmat itu.

Beberapa tempat wisata dan sejarah yang sempat kami kunjungi di Sabang

Buat teman-teman yang ingin ke Sabang kini semakin mudah dengan adanya fasilitas pelabuhan dan kapal yang rutin berlayar setiap harinya. Untuk itu, saya sarankan bagi teman-teman yang berkunjung ke Aceh, maka jangan lupa juga untuk berkunjung juga ke Sabang, karena di Sabang punya banyak tempat wisata dan kuliner yang istimewa.


Peran Pelabuhan Malahayati Dalam Distribusi Logistik

Selain memiliki pelabuhan Ulee Lheue untuk penyeberangan orang dan barang, di Aceh juga memiliki pelabuhan yang khusus untuk bongkar muat barang atau logistik juga loh, yaitu pelabuhan Malahayati yang berada di Krueng Raya - Aceh Besar.

Maka dalam rangkaian perjalanan Transmate Journey di Aceh ini, saya dan teman-teman berkesempatan untuk datang langsung ke pelabuhan Malahayati ini untuk melihat lebih dekat seperti apa aktivitas yang ada di pelabuhan ini.

Pelabuhan Malahayati ini terlihat jauh berbeda dari pelabuhan Ulee Lheue, pelabuhan ini tampak lebih sepi dan juga tidak ada banyak aktivitas yang berlangsung di sini, kecuali ada sebuah kapal bernama Martha Golden Belawan yang sedang membongkar muatan semen saat kami sampai di pelabuhan ini.

Namun uniknya, semen muatan dari kapal Martha Golden Belawan ini tidak diturunkan dari kapal secara manual, namun sudah menggunakan cara yang lebih praktis, yaitu semennya langsung disalurkan melalui pipa khusus menuju pabrik semen Padang yang masih ada di kawasan pelabuhan ini.

Pelabuhan Malahayati punya peran penting dalam kemudahan distribusi logistik

Keberadaan pelabuhan Malahayati ini sejatinya memiliki peran strategis untuk mendukung kemudahan pendistribusian produk atau barang antar daerah maupun antar negara. Biasanya pelabuhan ini digunakan untuk bongkar muat barang, seperti mengangkut produk ekspor asal Aceh menuju ke kawasan Eropa dan Timur Tengah karena secara geografis lebih dekat.

Selain itu, pelabuhan Malahayati ini digunakan juga untuk bongkar barang-barang, seperti oli, semen, dan aspal curah untuk didistribusikan ke seluruh Aceh dan sekitarnya. Bahkan sejak tahun 2016, pelabuhan Malahayati ini digunakan juga untuk pelabuhan peti kemas.

Jadi bisa dibilang bahwa keberadaan pelabuhan Malahayati ini punya peran yang sangat penting dalam meningkatkan konektivitas distribusi logistik untuk berbagai aktivitas ekonomi regional maupun global.


Sekolah Politeknik Pelayaran Malahayati Cetak Pelaut Profesional

Tak jauh dari Pelabuhan Malahayati, kami pun sempat berkunjung juga ke sebuah sekolah Politeknik Pelayaran Malahayati, yaitu lembaga pendidikan di bawah Kementerian Perhubungan yang bertugas mendidik dan melatih putra-putri terbaik bangsa ini untuk menjadi pelaut yang profesional.

Keberadaan sekolah ini adalah untuk memberikan pendidikan dan pelatihan dalam bidang pelayaran pada jenjang pendidikan dan pelatihan kepelautan tingkat dasar dan menengah sesuai standard dan ketentuan peraturan perundang-undangan yang berlaku.

Sedikit potret Politeknik Pelayaran Malahayati

Dan hingga saat ini, sekolah ini memiliki 3 program studi yaitu Studi Nautika, Permesinan Kapal dan juga Sistem Kelistrikan Kapal. Pada program pendidikan ini, Politeknik Malahayati memiliki jenjang pendidikan diploma 3 dengan masa studi selama tiga tahun atau enam semester.

Politeknik Pelayaran Malahayati ini didirikan pada tahun 2010 di atas lahan seluas 25 hektar, sehingga tidak heran bila sekolah ini tampak sangat luas dengan bangunan sekolah yang bagus serta dilengkapi oleh berbagai fasilitas yang memadai untuk kemudahan para taruna/taruni dalam menempuh sekolah di sini.

Selain itu, bersekolah di sini tampaknya sangat nyaman, karena Politeknik Pelayaran Malahayati ini memiliki berbagai fasilitas yang beragam untuk menunjang kenyamanan dan keamanan bagi para pelajarnya, seperti Kapal latih, Engine hall and workshop, laboratorium, simulator, ruang belajar, asrama, fasilitas olahraga, tempat ibadah, bus dan lain sebagainya.

Setelah para taruna dan taruni ini kelar menempuh pendidikannya di Politeknik Pelayaran Malahayati ini, kelak mereka nantinya banyak dibutuhkan oleh dunia kerja karena punya peranan penting dalam bidang kelautan, seperti meliputi kegiatan di pelabuhan, peti kemas, hingga pelayaran laut.

Maka bagi teman-teman yang punya cita-cita bisa keliling Indonesia atau dunia dengan gratis, bahkan bisa digaji dengan dollar, maka menempuh pendidikan di Politeknik Pelayaran Malahayati ini bisa menjadi pilihan untuk mewujudkan hal tersebut.

Nah, untuk mengetahui informasi yang lebih detail terkait sekolah Politeknik Pelayaran Malahayati ini maka teman-teman bisa mengecek websitenya www.poltekpelaceh.ac.id atau bisa datang langsung ke sekolah ini di alamat Jl. Laksamana Malahayati Km.19 No.12 Gampong Durung Kec. Mesjid Raya, Kab. Aceh Besar, Prov. Aceh, 23381 Tel. (0651) 33606 Fax. (0651) 33609


Menelusuri Riuhnya Pasar Al-Mahirah Lamdingin

Selain berkunjung ke berbagai lokasi tersebut di atas, kemarin kami pun sempat juga berkunjung ke pasar rakyat – pasar Al-Mahirah Lamdingin yang berada di jl. Syiah Kuala, Lambora Skep, Kecamatan Kuta ALam sebagai salah satu pusat ekonomi rakyat di Banda Aceh.

Pasar ini sama dengan pasar tradisional pada umumnya, tampak sangat ramai dengan pedagang yang menjual aneka produk hasil pertanian, peternakan, perikanan dan beragam produk lainnya yang didatangkan dari berbagai daerah di sekitar kawasan Aceh bahkan dari luar Aceh.

Pasar tradisional punya peran penting dalam pertumbuhan ekonomi masyarakat

Pasar yang diresmikan pada bulan Juli 2020 ini memiliki luas lahan sekitar dua hektar dengan total luas bangunan sekitar 5.934 ribu meter persegi yang dapat menampung ratusan pedagang yang akan menempati kios-kios dan lapak-lapak untuk menjual beragam produk yang dibutuhkan masyarakat.

Dengan tersedianya semua barang kebutuhan yang diperlukan oleh masyarakat di pasar ini, maka tidak dipungkiri, bahwa keberadaan pasar bukan hanya memudahkan masyarakat melakukan transaksi jual beli berbagai barang kebutuhannya saja, namun juga menjadi penggerak ekonomi rakyat.

Maka untuk menunjang kenyamanan para pedagang dan masyarakat yang datang ke pasar ini, maka pasar ini ditata secara khusus di mana lapak jualan sayur, rempah-rempah / bumbu, ikan, unggas dan daging masing-masing dikelompokkan ke dalam masing-masing gedung tersendiri yang terpisah-pisah, sehingga sangat memudahkan kita saat mencari barang yang kita inginkan.

Selain itu, pasar ini juga dilengkapi dengan lahan parkir yang luas, tersedia mushola dan toilet di setiap bangunan pasar demi menjaga kenyamanan pengunjung yang datang berbelanja di pasar ini. Selain itu, ketersediaan air bersih dan sistem drainase juga sangat diperhatikan agar pasar ini tetap tertata rapi dan jauh dari kesan kumuh dan jorok.

Namun satu hal yang perlu kita sadari, bahwa keberadaan semua barang logistik yang bisa terkumpul dengan mudah di pasar ini karena adanya kemudahan konektivitas transportasi yang ada di Aceh ini, sehingga berbagai produk atau barang yang awalnya berasal dari berbagai wilayah yang berbeda, kini semua tersedia di pasar ini.

Tak jarang produk atau barang yang dijual di pasar ini didatangkan dari daerah yang jauh, harus menyeberangi lautan dan menaiki kapal laut, atau dibawa menggunakan mobil hingga pesawat, agar bisa sampai di pasar ini dengan selamat demi memenuhi kebutuhan masyarakat. Jadi, ketersediaan segala produk logistik yang masyarakat butuhkan di pasar ini, tidak lepas dari adanya kemudahan konektivitas transportasi yang ada.


*****

Sebanarnya, selain melakukan liputan di atas, selama kami di Banda Aceh hingga Sabang, kami pun disuguhkan oleh banyak pengalaman seru, karena ternyata Aceh memiliki begitu banyak kuliner yang begitu nikmat, seperti Mie Aceh, Ayam Tangkap, Sate Matang, Kopi Khop, Teh Tarik dan beragam makanan dan minuman enak lainnya.

Selain bisa menikmati wisata kulinernya yang begitu kaya, selama di Aceh kami pun berkesempatan untuk mengunjungi berbagai tempat wisata yang indah, yaitu ada wisata sejarah, wisata religi, hingga wisata alamnya yang menyuguhkan keindahan panorama alam dari sisi barat Indonesia ini. 

Aceh memiliki beragam wisata kuliner, wisata religi, hingga wisata alam yang indah 

Demikian cerita singkat dari saya tentang rangkaian perjalanan Transmate Journey 2022 ke Banda Aceh, semoga ada manfaat yang bisa diambil dari informasi yang saya tuliskan di sini. Dan mohon maaf bila ada tutur kata yang salah dan kurang berkenan dalam tulisan ini.

Tak lupa saya mengucapkan banyak terima kasih kepada semua pihak yang telah banyak membantu dan menyambut kami dengan sangat hangat selama kami menjalankan program Transmate Journey 2022 di Banda Aceh hingga ke Sabang, semoga segala kebaikannya dibalas oleh Allah dengan pahala dan hidup yang berkah. Aamiin... Sampai jumpa pada Transmate Journey 2023! :)


1 comment:

  1. Ternyata transportasi yang ada di Banda Aceh sudah memadai ya Kak, semoga kedepannya terus semakin maju, jadi semakin banyak pula wisatawan yg berkunjung ke Banda Aceh. Niwey next trip kemana lagi niy Kak?

    ReplyDelete