Peran Budaya Lokal Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat



Kita semua tahu, bahwa negara kita tercinta Indonesia ini merupakan sebuah negara yang kaya akan berbagai hal, salah satunya adalah kebudayaannya. Bahkan negara kita ini memiliki lebih dari 300 suku bangsa dan 700 lebih bahasa daerah, sehingga Indonesia menjadi salah satu negara yang memiliki keanekaragaman budaya yang sangat kaya.

Keanekaragaman budaya Indonesia terlihat dari beragamnya tradisi, adat istiadat, tarian, seni, musik, dan lain-lain yang dimiliki oleh masyarakat Indonesia. Setiap suku bangsa di Indonesia memiliki kebudayaan yang unik dan berbeda-beda. Sebagai contohnya, ada tari kecak dari Bali, tarian saman dari Aceh, batik dari Jawa, dan masih banyak lagi kekayaan budaya Indonesia yang layak untuk kita banggakan.

Semua kekayaan yang kita miliki tersebut dapat berpotensi positif karena keanekaragaman dan keunggulannya, tapi dapat pula berpotensi negatif karena ancaman disintegrasi yang terus tumbuh, salah satunya semakin banyaknya pengaruh budaya asing terhadap budaya lokal.

Maka dari itu, kita perlu strategi pemberdayaan masyarakat berbasis budaya lokal sebagai upaya untuk mendorong partisipasi masyarakat secara nyata agar karakter budaya sebagai jati diri bangsa tetap terjaga untuk selama-lamanya.

Nah, terkait masalah kebudayaan ini, saya pun jadi teringat dengan acara Fokus Grup Diskusi (FGD) yang saya hadiri beberapa hari yang lalu (29/05/2024) yang digelar oleh Dompet Dhuafa dan Bina Trubus Swadaya dengan mengusung tema “Revitalisasi Cemerlang Budaya Lokal Dalam Membangun Karakter Bangsa Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat” di Bentara Budaya Kompas.

Dan membuka gelaran acara fokus grup diskusi (FGD) ini disuguhkan sebuah pementasan karya seni berupa pertunjukan musik angklung yang merupakan musik tradisional khas Jawa barat yang dipersembahkan oleh anak-anak sekolah dari SMART Ekselensia Indonesia dengan sangat apik.

Persembahan musik angklung oleh anak-anak sekolah SMART Ekselensia Indonesia

Terselenggaranya acara ini bertujuan untuk membangun jaringan silaturahmi antar pendukung budaya dan pemberdayan masyarakat di Nusantara. Kemudian memformulasikan cemerlang budaya di Indonesia bagi upaya memberdayakan masyarakat dan memperoleh model transformasi masyarakat berbudaya yang luhur.

Untuk itu, acara ini pun banyak dihadiri oleh berbagai tokoh nasional terkemuka untuk turut memformulasikan budaya di Indonesia dalam upaya memberdayakan masyarakat untuk tetap melestarikan budaya lokal, sekaligus mengangkat derajat masyarakat miskin melalui beragam program pemberdayaan masyarakat.

Bahkan dalam acara ini tampak hadir Bapak Parni Hadi selaku Inisiator dan Ketua Dewan Pembina Yayasan Dompet Dhuafa Republika yang sekaligus memberikan kata sambutan pada saat membuka fokus grup diskusi (FGD) yang digelar hari ini.

Bapak Parni Hadi berharap acara ini bisa melahirkan langkah nyata untuk membawa kemajuan bagi kebudayaan bangsa

Dalam sambutannya, Bapak Parni Hadi mengungkapkan kegelisahan dan juga rasa sedihnya karena melihat negara ini seperti tidak maju-maju. Hal ini terlihat dari masih banyaknya masyarakat miskin, dan jumlahnya tidak juga berkurang dari tahun ke tahun.

Padahal kita negara yang kaya dan bangsa Indonesia punya Pancasila dengan nilai-nilai luhur yang menjadi kekuatan bangsa. Tapi semua itu seperti tidak ada dampaknya secara nyata. Kenyataan ini membuat kita berasumsi bahwa jangan-jangan bangsa ini hanya pandai bicara saja, bisa berbicara tapi tidak bisa mengimplementasikannya dalam kehidupan yang nyata.

Maka beliau berharap, semoga melalui acara fokus grup diskusi yang digelar ini nantinya bisa melahirkan langkah konkret yang bisa diterima dan dipraktikan untuk memajukan kebudayaan di Indonesia yang sekaligus menjadi sarana pemberdayaan masyarakat.

Sebab selama ini kekayaan budaya yang Indonesia miliki belum dioptimalkan. Bahkan tak sedikit pihak yang masih menganggap kebudayaan hanya sebagai warisan masa lalu dan menimbulkan beban biaya yang besar, sehingga .budaya makin pudar padahal punya pesona yang memikat.

Makanya, melalui acara fokus grup diskusi ini, kita semua bisa mengubah paradigma tersebut dengan memandang kebudayaan sebagai investasi masa depan, sehingga tidak hanya perlu lindungi, tetapi juga harus terus diperkembangkan.

Sebab seperti yang kita tahu, bahwa kekayaan budaya Indonesia memiliki potensi yang besar untuk dimanfaatkan dalam mendukung kemajuan di berbagai bidang, mulai dari pendidikan, ekonomi, hingga politik, bahkan pengembangan budaya lokal pun bisa menjadi bekal untuk menyongsong kemajuan bangsa yang semakin cemerlang.

Untuk mengupas lebih mendalam terkait “Revitalisasi Cemerlang Budaya Lokal Dalam Membangun Karakter Bangsa Sebagai Sarana Pemberdayaan Masyarakat” maka acara ini menggelar fokus grup diskusi (FGD) yang terbagi dalam dua sesi dengan narasumber yang sangat hebat.

Pada fokus grup diskusi (FGD) yang pertama mengusung topik yang membahas tentang “Refleksi Budaya Lokal dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat dan Strategi Pemerintah” dengan empat orang narasumber yang terdiri dari Bapak Restu Gunawan selaku Direktur Pembinaan Tenaga dan Lembaga Kebudayaan Kemendikbud Ristek, ada juga Ibu Profesor Nurhayati Rahman selaku Guru Besar Universitas Hasanudin, Bapak Garin Nugroho Riyanto sebagai praktisi seni film, dan Bapak Yudi Latif dari Yayasan Dompet Dhuafa Republika yang dipandu oleh Mas Wahyu Wiwoho sebagai moderatornya.

FGD1: Refleksi Budaya Lokal dalam Konteks Pemberdayaan Masyarakat dan Strategi Pemerintah

Dalam acara ini, Bapak Restu Gunawan mengemukakan bahwa negara kita ini sungguh kaya, selain memiliki potensi kekayaan alam dan SDM yang banyak, Indonesia juga memiliki khasanah budaya lokal yang sangat istimewa dan begitu beragam, seperti kuliner, batik dan ragam pakaian daerah, musik etnik, perahu pinisi, dan juga destinasi wisata yang indah.

Namun seiring waktu, kesadaran kita terhadap budaya ini semakin rendah, perlahan hilang karena menurunya minat masyarakat, seperti budaya minum jamu tradisional yang perlahan ditinggalkan dan digantikan dengan obat-obatan modern. Termasuk semakin banyaknya masyarakat kita yang lebih percaya menggunakan skincare Korea ketimbang menggunakan bahan-bahan perawatan kulit tradisional yang kita miliki sendiri.

Selain itu, Ibu Nurhayati Rahman selaku akademisi yang meneliti sekaligus merekonstruksi kebudayaan melalui naskah-naskah kuno, termasuk naskah kuno La Galigo yang bercerita tentang relasi kehidupan antara sang pencipta dan manusia termasuk seluruh isi semesta dari langit hingga ke dasar laut yang mengusung konsep kesetaraan dan serba “saling” yaitu saling menerima dan memberi, berbagi dan melindungi.

Diakui oleh beliau bahwa kebudayaan Indonesia merupakan kebudayaan yang sangat besar, bahkan satu satunya negara didunia yang memiliki begitu banyak suku di dalam satu negara. Tapi sayangnya kita belum mampu menjaga kekayaan kita dengan baik, salah satunya terlihat dari keberadaan naskah-naskah kuno milik kita yang justru dirawat di luar negeri karena Indonesia belum mampu merawat naskah kuno tersebut, dikhawatirkan akan rusak jika tidak dirawat dengan baik.

Sedangkan Bapak Garin Nugroho yang merupakan seorang praktisi seni film menuturkan bahwa peran film dan kebudayaan sebenarnya tidak dapat dipisahkan, keduanya saling terkait, hanya saja untuk mengkomersilkan suatu film yang mengangkat tema budaya itu sulit mendapatkan keuntungan. Itulah sebabnya banyak sineas film yang tidak menjadikan unsur kebudayaan dalam alur ceritanya. Hal ini berbeda dengan Korea yang sudah secara sistematis merancang industri kreatif berbasis budaya lokal melalui film, kuliner, musik, dan lain sebagainya.

Dan selanjutnya Bapak Yudi Latif menjelaskan banyak hal terkait dengan budi pekerti. Dimana budi pekerti ini memiliki terjemahan yang mendalam, Budi memiliki arti budaya dan pekerti memiliki arti material yang dicetak sebagai perilaku. Itulah sebabnya banyak pergerakan di tanah air kita ini dipelopori oleh gerakan-gerakan yang terinspirasi oleh budi pekerti, seperti gerakan sumpah pemuda dan lain sebagainya.

FGD 2: Best Practice Pengembangan Budaya Masyarakat

Dan tak kalah seru dengan bahasan fokus grup diskusi (FGD) yang pertama, gelaran fokus grup diskusi (FGD) sesi yang kedua pun mengulas topik tentang “Best Practice Pengembangan Budaya Masyarakat” dengan menghadirkan empat narasumber yang terdiri dari Ibu GKR Mangkubumi dari Keraton Yogyakarta, Ibu Maria Loreta dari yayasan Agro Sorgum Flores, Bapak Andi Makmur Makka dari Pangadareng, dan Bapak Ilham Khoiri dari Bentara Budaya Kompas, yang dipandu oleh Bapak Fatchuri Rosidin selaku moderator.

Dalam hal ini, Ibu GKR Mangkubumi yang merupakan seorang putri raja Yogyakarta menjelaskan tentang bagaimana refleksi budaya jawa yang lebih mengedepankan kewajiban ketimbang hak, menjunjung toleransi dan harmoni serta mampu memanusiakan manusia, tak hanya dalam pikiran, namun juga dalam rasa, serta menafikan upaya mengejar kekuasaan.

Untuk itu, ada tiga filosofi yang diterapkan Keraton Yogyakarta yaitu “Sangkan paraning dumadi” yaitu manusia harus mengendalikan dirinya atau tahu diri. Selanjutnya “Hamemayu Hayuning Bawono” yaitu melakukan Pembangunan berkesinambungan dan ramah lingkungan. Serta “Manunggaling Kawulo Gusti” yaitu menyatukan rakyat dengan pemimpinnya.

Sementara Ibu Maria Loreta menceritakan tentang bagaimana perjuangannya dalam mengajak warga di Flores NTT untuk menanam sorgum di atas tanah yang kering dan penuh bebatuan karena tidak bisa ditanami padi, jagung dan palawija lainnya. Berkat usaha kerasnya kini masyarakat di sana sudah banyak yang menanam sorgum dan mengolahnya menjadi berbagai makanan dan cemilan untuk menggantikan beras atau jagung sebagai makanan pokok.

Selain itu Bapak Andi Makmur Makka dari Pangadareng menjelaskan bagaimana jejak kebudayaan Bugis dalam membangun karakter bangsa yang sudah dilakukan sejak masa kerajaan. Namun perlu juga kita ketahui bahwa kebudayaan Bugis dan Makassar merupakan dua kebudayaan yang berbeda. Meski mungkin selama ini banyak dari kita yang mengira bahwa Makassar itu identik atau serumpun dengan suku Bugis karena begitu maraknya istilah “Bugis Makassar” yang kita dengar selama ini, namun bahasa keduanya saja berbeda.

Dan tak ketinggalan Bapak Ilham Khoiri juga menjelaskan terkait bagaimana dulunya Bentara Budaya yang dibangun pada 26 September 1982 ini menjadi wadah untuk memanggungkan beragam ekspresi dan kreasi seni dari para seniman. Dan kini Bentara Budaya terus bertransformasi menjadi ruang pameran seni yang dikemas secara modern seperti yang terlihat di Bentara Budaya Art Gallery yang ada di lantai 8 Menara Kompas namun ruang galeri ini tetap kental dengan ekspresi seni Nusantara.

Budaya lokal punya potensi yang luar biasa sebagai sarana pemberdayaan masyarakat

Setelah mendengarkan pemaparan dari berbagai narasumber pada fokus grup diskusi (FGD) yang pertama dan kedua ini, saya merasa semakin tercerahkan tentang betapa pentingnya peran kebudayaan ini sebagai sarana pemberdayaan masyarakat dan sekaligus untuk kemajuan sebuah bangsa. Untuk itu, kebudayaan yang kita miliki ini sudah selayaknya kita terus lestarikan dan jangan sampai musnah karena tergerus oleh pengaruh budaya luar yang tak sejalan dengan nilai dasar negara kita.

Mari kita semua saling bergandengan tangan, bersama kita terus majukan kebudayaan lokal karena kalau bukan kita, lantas siapa lagi? 





No comments:

Post a Comment