Photo by Kranich17 (Pixabay)


Ada sesuatu
yang bertahun-tahun
kusimpan darimu.

Bukan rahasia besar,
bukan pula luka
yang harus disembunyikan.
Photo by Mokaza (Pixabay)


Rindu telah menjelma kemarau,

panjang dan sunyi di halaman dada,

mengeringkan sungai-sungai kenangan

hingga yang tersisa hanya jejak langkahmu

di tanah hati yang retak oleh penantian.

Gambar by Myshoun (Pixabay)

Beberapa waktu lalu, saya sempat merasakan kondisi yang membuat aktivitas sehari-hari terasa kurang nyaman. Awalnya saya mengira hanya flu biasa karena hidung terasa tersumbat, terutama di salah satu sisi. Namun, setelah beberapa hari, muncul rasa penuh di area pipi dan sekitar mata, terutama saat bangun tidur. Kepala juga terasa sedikit berat, dan napas melalui hidung menjadi kurang lega.

Meski gejalanya tidak terlalu parah, saya mulai mencari tahu penyebabnya. Dari berbagai informasi yang saya baca, gejala yang saya alami cukup mirip dengan sinusitis ringan. Saat itu saya memutuskan untuk tidak panik dan mulai melakukan beberapa perubahan sederhana dalam kebiasaan sehari-hari.
Gambar by Franz (Pixabay)


Riuh rindu memaki anganku, 
yang mendamba hadirmu, 
seolah waktu belum rela 
menutup pintu yang pernah kita buka bersama.



Setiap kali menghadiri shalat Jumat, ada satu pemandangan yang membuat saya merasa prihatin. Di saat khatib sudah berdiri di mimbar dan mulai menyampaikan khutbah, ternyata masih ada saja jamaah yang sibuk dengan telepon genggamnya. Ada yang membuka WhatsApp, scroll media sosial, dan lain sebagainya.


Entah pada musim yang keberapa,
takdir menuliskan namamu
di sela-sela sunyi yang selama ini
kupanggil rumah.

Tatapanmu adalah jyoti,
cahaya yang tak sekadar menerangi,
melainkan menghidupkan
bagian-bagian jiwaku
yang lama tertidur.



Saya dulu termasuk orang yang berpikir, “Kalau gigi tidak sakit, berarti tidak ada masalah.” Menyikat gigi dua kali sehari rasanya sudah cukup. Senyum masih terlihat baik-baik saja, jadi untuk apa repot-repot ke dokter gigi hanya untuk scaling?