Ayo Bantu Atasi Krisis Iklim Dengan Menekan Kemubaziran Pangan



Belakangan ini mungkin kita sudah mulai menyadari bahwa dunia sedang tidak baik-baik saja, kita bisa merasakan suhu udara terasa semakin panas, musim hujan dan kemarau tidak lagi menentu, cuaca panas pada siang hari namun kemudian tiba-tiba hujan deras datang tak berhenti.

Ya, beberapa peristiwa tersebut adalah contoh nyata dampak dari adanya perubahan iklim. Dimana hal ini terjadi karena meningkatnya konsentrasi gas karbon dioksida dan gas-gas lainnya di atmosfer bumi. Hal ini juga menjadi penyebab adanya efek gas rumah kaca.

Dimana gas rumah kaca dihasilkan dari berbagai aktivitas manusia dalam kehidupannya sehari-hari, seperti menggunakan kendaraan bermotor, membakar sampah, penggunaan pestisida pada sektor pertanian, asap yang dihasilkan oleh proses produksi dan berbagai kegiatan lainnya, termasuk makanan yang terbuang ke tempat sampah dapat berdampak pada percepatan panas bumi.

Dengan melihat ini semua, tentu saja kita tidak bisa terus diam dan berpangku tangan saja, kita harus bergerak bersama untuk mencari jalan keluarnya, agar perubahan iklim ini tidak semakin parah. Sebab pada dasarnya, manusialah penyebab utama terjadinya krisis iklim saat ini. Untuk itu, manusia jugalah yang harus juga mencari solusinya.



FOI Gelar Acara Peringatan Hari Bumi 2022

Menyadari pentingnya permasalahan krisis iklim ini, maka Foodbank of Indonesia (FOI) atau Bank Pangan Indonesia merasa terpanggil untuk turut serta dalam upaya mencari solusi tentang bagaimana agar masalah krisis iklim ini tidak semakin parah.

Maka dari itu, FOI mengandeng para mitranya untuk mengadakan kegiatan Peringatan Hari Bumi Sedunia 2022 untuk berkolaborasi bersama dalam menekan kemubaziran pangan yang bertempat di halaman Pasar Tebet Timur – Jakarta Selatan, (25/04/2022).

Untuk itu, dalam acara ini FOI mengundang berbagai pihak, diantaranya ada Ibu Suharini Eliawati selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan dan Pertanian DKI Jakarta, ada juga Bapak Arief Nasrudin selaku Direktur Utama Perumda PD Pasar Jaya, selain itu ada juga perwakilan dunia usaha, JNE & Superindo, para pedagang Pasar Tebet Timur, relawan FOI dan media.

Diskusi tentang pentingnya kolaborasi semua pihak untuk mengurangi kemubaziran pangan, menyelamatkan bumi dan mengakhiri kelaparan yang ada. 

Dimana tujuan digelarnya acara ini adalah untuk membangun kesadaran dan mengajak lebih banyak pihak bergerak bersama mengurangi kemubaziran pangan, menyelamatkan bumi dan mengakhiri kelaparan yang ada Indonesia khususnya.

Hal tersebut juga yang diungkapkan oleh Bapak M Hendro Utomo selaku Pendiri FOI “Hari ini bersama Pemerintah Provinsi DKI Jakarta, JNE, Superindo, Pasar Tradisional, kita bergerak bersama untuk menekan kemubaziran makanan dan memanfaatkannya untuk memerangi kelaparan sekaligus melestarikan bumi.”

Ternyata, kemubaziran makanan adalah salah satu penyebab krisis iklim. Hal ini disebabkan karena makanan yang terbuang dan kemudian tertimbun di Tempat Pembuangan Akhir (TPA) akan melepaskan gas metan (CH4) ke lingkungan. Gas metana ini merupakan emisi gas rumah kaca 25 kali lebih ganas dari karbondioksida (CO2), yang berkontribusi mempercepat pemanasan global.

Bahkan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat 98 persen frekuensi kejadian bencana di Indonesia dalam 10 tahun terakhir berupa bencana hidrometeorologi sebagai dampak dari perubahan iklim, didukung kondisi geografis Indonesia sebagai negara dengan bentuk kepulauan yang menyebabkan menjadi lebih rentan terhadap dampaknya.

Maka dari itu, perubahan iklim ini menjadi tantangan multidisiplin paling serius, kompleks, dan dilematis yang dihadapi oleh masyarakat global pada awal abad ke-21, bahkan diperkirakan hingga abad ke-22. Oleh karenanya, melalui Perjanjian Paris pada tahun 2015, sebanyak 195 negara global, salah satunya Indonesia sepakat untuk membatasi pemanasan global di tingkat ideal di bawah 1,5°C atau paling tidak 2°C selama periode 2020-2030.

Dan saat ini PBB pun sudah memperingatkan kepada seluruh dunia, bahwa kenaikan suhu bumi akan datang lebih cepat, hal ini disebabkan karena penurunan emisi tiap negara hanya sepertiga dari kesepakatan Perjanjian Paris pada 2015 yang lalu.

Selain itu, Laporan dari WRI dan ClimateWorks Foundation juga menunjukkan bahwa dalam hampir seluruh aspek, kemajuan yang dicapai masih terlalu lambat untuk mencapai target pengurangan emisi yang ingin dicapai dari Perjanjian Paris tersebut.

Untuk itu, melalui acara ini, FOI berharap semua pihak bisa saling berkolaborasi dan bekerjasama agar permasalahan krisis iklim ini tidak semakin parah, melalui upaya pengurangan kemubaziran pangan yang selama ini mungkin tidak disadari oleh banyak masyarakat.



Ayo Stop Kemubaziran Pangan Mulai dari Sekarang

Perlu kita sadari, mungkin selama ini kita belum mengetahuinya, bahwa kebiasaan membuang-buang makanan adalah salah satu sikap tidak bertanggung jawab. Jangan merasa karena makanan tersebut adalah milik kita, maka kita pun berhak juga untuk membuang-buangnya.

Pemikiran dan tindakan yang demikian haruslah kita hentikan, sebab kebiasaan membuang-buang makanan bukan hanya menyebabkan kemubaziran, namun juga menjadi penyebab terjadinya perubahan iklim yang terjadi belakangan ini.

Hal ini juga yang disampaikan oleh Ibu Wida Septarina selaku Founder Bank Pangan Indonesia menyatakan bahwa "Sekarang kita menghadapi persoalan krisis iklim yang salah satunya disebabkan oleh tingginya angka kemubaziran pangan." 

Ibu Wida mengingatkan kita semua bahwa salah satu penyebab terjadinya krisis iklim adalah karena kemubaziran pangan

Untuk itu, kebiasaan mubazir dalam hal pangan ini harus dihentikan karena masih banyak masyarakat Indonesia yang mengalami kelaparan dan malnutrisi. Bahkan menurut data Indeks Kelaparan Global Tahun 2021, Indonesia menghadapi masalah kelaparan di level moderat dengan skor GHI (Global Hunger Index) sebesar 19,1 persen.

Hal ini didukung dengan hasil Studi Status Gizi Indonesia (SSGI) pada tahun 2021 yang lalu. Dimana disebutkan ada sebanyak 7,1% balita mengalami gizi kurang (wasted), 17,0% balita mengalami BB kurang (underweight), dan 24,4% mengalami tengkes (stunting).

Selain itu, menurut hasil survey yang juga dilakukan oleh FOI pada Agustus 2020 di 14 kota menemukan bahwa 27% anak pergi ke sekolah dengan perut kosong hingga siang hari. Bahkan khusus untuk wilayah padat penduduk seperti DKI Jakarta, angkanya dapat mencapai 40-50%. Hal ini menunjukkan bahwa di Indonesia masih banyak ditemukan kelompok masyarakat rentan yang kebutuhan pangannya tidak terpenuhi.

Maka dari itu, dari pada makanan tersebut menjadi mubazir, maka bisa kita memberikannya kepada orang-orang yang memang membutuhkannya, sehingga pangan yang ada tidak terbuang percuma, namun bermanfaat untuk orang lain sekaligus membantu mengurangi sampah makanan yang bisa memperburuk krisis iklim yang terjadi saat ini.

Maka dari itu, kita semua mari biasakan untuk “beli makanan secukupnya, atau membeli lebih namun dibagikan kepada orang yang membutuhkan” agar makanan tersebut menjadi lebih berguna bagi manusia dan juga bagi lingkungan semesta.


Berbagai Upaya Berama untuk Atasi Krisis Iklim & Kemubaziran Pangan 

Melalui acara ini, Bapak Hendro Utomo, pendiri Foodbank of Indonesia berharap dengan adanya kegiatan ini dapat mengajak lebih banyak pihak untuk bergerak bersama mengurangi kemubaziran pangan, menyelamatkan bumi dan sekaligus untuk mengakhiri kelaparan.

Untuk itu beliau berharap kepada semua masyarakat, pemerintah, dan pihak swasta termasuk pedagang tradisional untuk saling berkolaborasi dan melakukan aksi nyata bersama untuk mengurangi kemubaziran pangan, sekaligus dapat mengakhiri kelaparan, dan menekan krisis iklim secara berkelanjutan.

Lebih lanjut beliau juga sangat berharap kepada pemerintah selaku pemegang kekuasaan agar mengeluarkan kebijakan dan peraturan untuk menekan kemubaziran pangan, serta melindungi dan mendorong pihak yang berbuat baik dan mendermakan pangan yang berlebih, agar kita bersama dapat menekan kenaikan suhu bumi dan memerangi kelaparan.

FOI ajak kolaborasi semua pihak untuk mengatasi krisis iklim dan kemubaziran pangan 

Hal tersebut disambut baik oleh pemerintah Jakarta, dalam hal ini seperti yang diungkapkan oleh Ibu Suharini Eliawati selaku Kepala Dinas Ketahanan Pangan, Kelautan, Dan Pertanian Pemprov DKI Jakarta bahwa “Pemerintah Provinsi DKI Jakarta mendukung upaya pencegahan kemubaziran pangan ini dengan merumuskan kebijakan berupa PERGUB untuk mengatur pemanfaatan makanan berlebih menjadi sesuatu yang bermanfaat untuk orang lain.”

Tak hanya itu, pihak PD Pasar Jaya sebagai Badan Usaha Daerah yang menaungi pasar tradisional di DKI Jakarta turut mendukung gerakan bersama dalam mencegah kemubaziran pangan untuk melestarikan bumi dan mengurangi kelaparan.

Hal ini disampaikan oleh Bapak Arief Nasrudin selaku Direktur Utama Perumda PD Pasar Jaya bahwa Perumda Pasar Jaya sangat mengapresiasi pedagang Pasar Tebet Timur yang mulai memberikan makanan berlebih tidak terjual untuk didonasikan.

Untuk beliau berharap agar hal ini bisa menjadi contoh untuk pasar lainnya, karena pasar tradisional DKI 90% nya adalah pasar basah yang left overnya cukup banyak, sehingga ketika pedagang sudah ada kesadaran untuk tidak menjadikan sampah ini merupakan hal baik.

Pedagang Tradisional Pasar Tebet Timur sudah mulai terbangun kesadarannya dalam hal mengurangi kemubaziran pangan yang terwujud dari komitmennya untuk mendonasikan pangan segar yang tidak terjual hingga menjualnya dengan harga yang lebih murah kepada bank makanan. Semoga langkah ini diikuti juga oleh pasar tradisional lainnya di Indonesia.

Penyerahan Bahan Pangan dari Pedagang di Pasar Tebet Timur kepada FOI 

Selain itu, dalam hal ini tentu saja peran pihak swasta atau dunia bisnis juga punya memegang peranan penting dalam upaya mengurangi kemubaziran pangan dan memerangi kelaparan yang ada di tanah air. Dan hingga kini sudah ada beberapa perusahaan swasta yang bekerjasama dengan FOI.

Bahkan sejak Tahun 2018, FOI sudah berkolaborasi dengan PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) sebagai perusahaan yang bergerak dalam bidang pengiriman dan logistik untuk membantu mengantarkan makanan kepada orang-orang yang mengalami kelaparan, sehingga peran JNE begitu penting dalam menyelamatkan makanan dan mengurangi kemubaziran pangan.

Untuk itu, Bapak Doedi Hadji Sapoetra selaku Head of Marketing Communication Division PT Tiki Jalur Nugraha Ekakurir (JNE) menyampaikan bahwa menurut Badan Pusat Statistik (BPS) telah mencatat sebanyak 8,34% penduduk Indonesia Kekurangan Pangan pada 2020. Jumlah ini meningkat 0,71% dari tahun sebelumnya.

Dan beliau berharap kepada semua masyarakat agar semakin bijak dalam mengkonsumsi makanan, agar setiap makanan sebaiknya dihabiskan, makan jangan sampai tersisa, karena di luar sana masih banyak yang tersiksa kelaparan karena kekurangan makanan.

Super Indo menyerahkan Bantuan Paket Dapur Pangan Kepada FOI

Selain itu, FOI Juga sudah lebih dari 4 tahun bekerjasama PT Lion Super Indo. Dimana Superindo telah mempraktekan pencegahan kemubaziran pangan dengan mendonasikan makanan berlebih kepada FOI untuk mengurangi kelaparan dan menekan krisis iklim dan akan terus berkomitmen untuk mencapai bisnis berkelanjutan yang bertanggung jawab.

Hal ini juga yang diungkapkan oleh Bapak Priyo D Utomo selaku Head of Corporate Affairs Lion Super Indo mengatakan bahwa "Sebagai jaringan supermarket nasional terkemuka di Indonesia, Super Indo berkomitmen untuk menjalankan kegiatan bisnis dan operasional dengan menerapkan prinsip berkelanjutan, salah satunya adalah bagaimana kami menangani sampah makanan yang dapat timbul dari kegiatan operasional.”

Dan lebih lanjut beliau menuturkan bahwa untuk itu, Super Indo memiliki program #Zerotolandfill sebagai salah satu implementasi dari bisnis berkelanjutan yang dikhususkan dalam manajemen sampah organik yang bisa memberikan nilai dan manfaat bagi masyarakat.

Kerjasama Super Indo dengan Foodbank of Indonesia telah berjalan dari tahun 2018 dimana Super Indo mendonasikan makanan yang sudah tidak layak jual di gerai namun masih layak dikonsumsi untuk kemudian dijadikan bahan pangan di dapur pangan Foodbank of Indonesia.

Dimana kerjasama sejak tahun 2018 hingga 2021 ini ternyata telah berhasil menyelamatkan dan mendonasikan kurang lebih 558 ton makanan. Dan tentunya, diakui oleh pihak Super Indo bahwa upaya seperti ini tidak akan berhenti sampai di sini, Super Indo akan berjalan bersama FOI untuk terus memberikan akses pangan yang baik dan layak bagi masyarakat yang membutuhkan.

Melihat hal ini, saya pribadi sangat salut atas kerjasama yang sudah terjadi, semoga semakin banyak pihak lain yang turut ikut tergerak dan mau berkolaborasi bersama FOI untuk menekan kemubaziran pangan, demi mengatasi kelaparan di masyarakat, dan juga krisis iklim yang mulai terjadi. AYO BERSAMA KITA BISA!



No comments:

Post a Comment