Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Showing posts with label Fiksi. Show all posts
Photo by Kranich17 (Pixabay)


Ada sesuatu
yang bertahun-tahun
kusimpan darimu.

Bukan rahasia besar,
bukan pula luka
yang harus disembunyikan.
Photo by Mokaza (Pixabay)


Rindu telah menjelma kemarau,

panjang dan sunyi di halaman dada,

mengeringkan sungai-sungai kenangan

hingga yang tersisa hanya jejak langkahmu

di tanah hati yang retak oleh penantian.
Gambar by Franz (Pixabay)


Riuh rindu memaki anganku, 
yang mendamba hadirmu, 
seolah waktu belum rela 
menutup pintu yang pernah kita buka bersama.


Entah pada musim yang keberapa,
takdir menuliskan namamu
di sela-sela sunyi yang selama ini
kupanggil rumah.

Tatapanmu adalah jyoti,
cahaya yang tak sekadar menerangi,
melainkan menghidupkan
bagian-bagian jiwaku
yang lama tertidur.



Dan itulah kenyataanya,

kisah kita kandas di ujung musim semi yang suram,

aku hanya mampu terisak memeluk harap

yang tak merestui inginku,

menjadikanmu akhir pencarianku.




Aku seketika seperti angin yang ragu berhembus,

menyimpan bisik di balik dada yang kelu,

sementara waktu berjalan tanpa menoleh,

membiarkan rasa ini tumbuh,

menanggung rindu yang kerap kambuh.




Aku terlelap,

dalam pelukan sunyi yang tak benar-benar sepi..,

sebab di sana,

kau masih bernafas sebagai kenangan.


Sore itu hujan turun pelan, membasahi trotoar dan meninggalkan aroma tanah yang khas. Saya melangkah masuk ke sebuah kafe kecil di sudut jalan, tempat yang biasanya saya pilih untuk menenangkan pikiran setelah hari yang panjang. 

Lampu-lampu kuning menggantung rendah, musik jazz mengalun lembut, dan barista tersenyum ramah saat saya memesan secangkir kopi hitam. Tak ada firasat apa pun bahwa sore itu akan berubah menjadi pertemuan dengan masa lalu.



Aku duduk di antara waktu yang tak lagi utuh,
menghitung detik yang tak memberi kabar,
sementara bayangmu masih menetap
di sisi ingatan yang enggan pulang.



Aku tak pernah menyiapkan hati
untuk perjumpaan seajaib itu…
di antara hiruk napas dunia,
kau hadir seperti jeda
yang menenangkan seluruh gemuruh waktu.



Kamu pernah jadi permata di mataku,
Kupernah runtuh dalam pelukan yang kau cipta dari kata,
tapi kini,
tak ada lagi getaran
bahkan saat kau menyebut namaku
dengan nada yang dulu mampu
membuatku lupa caranya marah.



Di ujung meja dapur yang selalu harum kenangan,
tergeletak sepotong brownies, sunyi dan sederhana.
Kulitnya retak-retak, cokelat pekat,
dengan aroma kakao yang menyeruakkan masa lalu.

Aku duduk di bangku kayu ini lagi. Di bawah pohon tua yang sudah lama tak meneteskan daun, hanya diam yang bersuara. Sore ini begitu kosong, nyaris tak bernyawa, seperti aku setelah kau patahkan.

Dulu, kita pernah duduk di sini. Tertawa karena hal-hal sepele. Mengukir nama kita di kulit pohon, seolah cinta kita akan tumbuh seteguh batangnya. Bodohnya aku percaya, padahal kau hanya sedang menanam dusta.


Kau ajarkan aku cinta dengan dusta,
menyulam janji di atas pasir yang retak.
Katamu aku satu-satunya,
nyatanya aku hanya jeda di antara langkahmu yang serakah.



Aku terhempas dalam arus yang tak menentu,
antara rindu yang mendesah dan benci yang bergema pilu.
Bagaikan ombak yang tak jemu mencumbu karang—
dengan cinta yang menggigil, dan marah yang tak pernah tenang.



Kau yang pernah menetap,
di antara rindu dan kecewa yang menyiksa,
dan pada gerimis yang merinai dingin,
kau kembali membawa harapan,
melambungkan anganku yang lama terlelap.


Di ujung malam yang tak berbintang,
namamu masih menggema di relung hati.
Wajahmu, yang dulu mengisi setiap sudut pikiranku,
sekarang hanya bayang-bayang yang tersisa,
terbawa angin, hilang bersama waktu.

Di malam yang sunyi, angin berbisik lembut, seolah mengingatkan pada suara lembut yang pernah akrab di telinga. Aku duduk sendiri di teras rumah, menatap langit yang penuh dengan bintang. Namun, tak satu pun bintang itu bisa menggantikan cahayamu yang dulu selalu hadir di setiap malamku.

Hari-hari berlalu tanpa jejak, dan aku hanya bisa menunggu, seperti daun yang menanti hujan, seperti bunga yang mengharapkan matahari terbit. Ada waktu-waktu ketika aku mencoba meyakinkan diriku bahwa ini hanya soal waktu, bahwa kau akan kembali. Tapi semakin lama, aku semakin terjebak dalam hening yang tak berujung. Tak ada kabar, tak ada jejak, hanya kenangan yang semakin pudar, seiring berjalannya waktu.

 


Lelah rasanya harus menunggangi rindu sendiri

Seperti bunga yang tiba-tiba patah dari tangkainya

Tak lagi mekar dengan warna yang berseri

Hanya mampu memeluk luka dalam kesepian yang tak kunjung usai


Bila mencintaimu tak lagi boleh,

maka bantu aku menghapusnya,

lapangkan harapku untuk menyudahi segalanya dengan tabah.