![]() |
| Photo by Nickype (Pixabay) |
seperti senja luruh ke pelukan malam,
perlahan, tanpa suara,
namun diam-diam mengerti,
kita hanyalah cakrawala yang berjauhan.
Ada namamu yang tumbuh
di sela doa dan sunyi malam.
Kau menjadi aksara paling indah,
namun tak pernah selesai kutulis jadi puisi,
sebab setiap bait tentangmu.
berujung pada rindu yang menghukumku.
Dan kini kenyataan benar-benar menamparku,
arah angin mendadak berubah,
laju perahumu ternyata berlabuh
pada dermaga yang bukan aku.
pada dermaga yang bukan aku.
Sungguh berat memapah harapku yang patah,
Kuingin hasratku padamu cepat usang,
perlahan hilang agar kau tak tahu,
pernah ada cinta yang kuselipkan
di antara persahabatan yang kita jalin.



No comments:
Post a Comment