Di tengah perubahan iklim yang semakin nyata, persoalan pangan tidak lagi cukup dipandang sebagai urusan produksi dan ketersediaan bahan makanan. Ada hubungan erat antara kondisi lingkungan, kelestarian keanekaragaman hayati, dan kemampuan masyarakat memenuhi kebutuhan pangannya. Kerusakan ekosistem, termasuk kebakaran hutan dan lahan (karhutla), dapat mengancam sumber pangan sekaligus memperbesar kerentanan masyarakat terhadap krisis iklim.
Tak Hanya Mangrove, Ternyata Nipah Juga Jadi Sumber Pangan dan Peluang Ekonomi Masyarakat Pesisir
posted on
Ada satu hal yang kembali saya sadari setelah mengikuti webinar yang diadakan oleh Eco Blogger Squad bersama The Asia Foundation yang mengusung tema “Inspirasi Ketahanan Pangan dari Mangrove di Raja Ampat” yaitu hutan bukan sekadar kumpulan pepohonan yang menghijaukan bumi. Di balik rimbunnya vegetasi pesisir, tersimpan sumber kehidupan yang menyediakan pangan, melindungi lingkungan, sekaligus membuka peluang ekonomi bagi masyarakat.
Ubud has evolved into a diverse food scene over the years. Here, travelers can easily find Ubud's traditional heritage dishes like babi guling, bebek betutu, lawar, and sate lilit. Tourists can also find international cuisine, even restaurants with specific eating concepts like plant based dining.
One cuisine that enlivens this diversity is Indian food. This growing popularity is reflected in the increasing number of Ubud Indian restaurants across the town.
![]() |
| Di balik sepiring makanan yang tersaji, punya alur kerja yang jelas (Foto Pribadi) |
Dulu saya mengira mengelola restoran itu sederhana. Pelanggan datang, pesan makanan, makanan dimasak, lalu dibayar. Selesai. Tapi ternyata, setelah melihat sendiri bagaimana operasional restoran berjalan dari pagi hingga malam, saya baru sadar, di balik satu piring makanan yang sampai ke meja pelanggan, ada banyak proses yang harus berjalan dengan tepat.
![]() |
| Photo by Ornaw (Pixabay) |
Beberapa waktu lalu, saya menemukan sebuah tempat makan kecil yang makanannya sebenarnya luar biasa. Sambalnya pas. Ayamnya gurih. Nasinya pulen. Harganya juga masih masuk akal.
Pertama kali mencoba, saya langsung berpikir, “Wah, ini bisa jadi langganan.”
Tapi ternyata saya salah. Bukan karena makanannya berubah. Bukan karena harganya naik. Bukan pula karena ada tempat lain yang rasanya lebih enak. Masalahnya ada pada orang yang melayani.
![]() |
| Photo by Couleur (Pixabay) |
Jangan anggap sepele label harga. Hal sederhana seperti mencantumkan harga pada barang dagangan ternyata bisa menjadi salah satu cara efektif untuk menarik perhatian calon pembeli. Sayangnya, masih banyak toko, warung, maupun usaha kecil yang justru mengabaikan hal ini.
Bagi sebagian penjual, memasang label harga mungkin dianggap tidak terlalu penting. Mereka merasa pembeli yang tertarik dengan produknya akan tetap bertanya kepada penjualnya atau penjaga toko mengenai harga. Padahal, tidak semua calon pelanggan memiliki keberanian untuk bertanya, apalagi jika mereka hanya sedang melihat-lihat.
![]() |
| Gambar by Myshoun (Pixabay) |
Beberapa waktu lalu, saya sempat merasakan kondisi yang membuat aktivitas sehari-hari terasa kurang nyaman. Awalnya saya mengira hanya flu biasa karena hidung terasa tersumbat, terutama di salah satu sisi. Namun, setelah beberapa hari, muncul rasa penuh di area pipi dan sekitar mata, terutama saat bangun tidur. Kepala juga terasa sedikit berat, dan napas melalui hidung menjadi kurang lega.
Meski gejalanya tidak terlalu parah, saya mulai mencari tahu penyebabnya. Dari berbagai informasi yang saya baca, gejala yang saya alami cukup mirip dengan sinusitis ringan. Saat itu saya memutuskan untuk tidak panik dan mulai melakukan beberapa perubahan sederhana dalam kebiasaan sehari-hari.
Setiap kali menghadiri shalat Jumat, ada satu pemandangan yang membuat saya merasa prihatin. Di saat khatib sudah berdiri di mimbar dan mulai menyampaikan khutbah, ternyata masih ada saja jamaah yang sibuk dengan telepon genggamnya. Ada yang membuka WhatsApp, scroll media sosial, dan lain sebagainya.
Awalnya saya mengira itu hanya rasa tidak nyaman biasa. Sedikit ngilu di bagian belakang gigi, mungkin karena terlalu banyak minum es atau kurang minum air putih. Namun keesokan paginya, saat bercermin, saya terdiam. Gusi saya tampak membengkak dan kemerahan. Ketika lidah menyentuhnya, terasa nyeri. Sejak saat itu, hari-hari terasa berbeda.
Ada satu fase di mana saya benar-benar merasa penat dengan rutinitas pekerjaan yang seolah tidak ada jedanya. Hari-hari terasa monoton, penuh deadline, dan kadang membuat saya lupa bagaimana rasanya menikmati waktu santai. Di momen seperti itu, yang saya butuhkan sebenarnya sederhana: kumpul bareng teman-teman.
Me time versi saya bukan selalu sendiri, tapi justru berbagi tawa dengan orang-orang terdekat. Dari situlah muncul ide spontan untuk mencari kafe pasta dan pizza Jakarta yang nyaman, enak, dan tentunya tidak bikin kantong bolong.
Me time versi saya bukan selalu sendiri, tapi justru berbagi tawa dengan orang-orang terdekat. Dari situlah muncul ide spontan untuk mencari kafe pasta dan pizza Jakarta yang nyaman, enak, dan tentunya tidak bikin kantong bolong.

Di era digital seperti sekarang, Generasi Z dikenal kreatif, tech-savvy, dan punya banyak peluang penghasilan. Mulai dari freelance, content creator, affiliate, sampai side hustle online. Tapi ada satu masalah klasik yang sering muncul: uang cepat datang, cepat juga hilang.
Gaji baru masuk, beberapa hari kemudian saldo tinggal sisa kenangan.
Subscribe to:
Posts (Atom)























